Weekend, biasa aku ke Gramedia jalan Pandanaran. Kebanyakan baca-baca saja, majalah atau manga. Kadang-kadang kalau memang bagus, beli juga sih. Semalam setelah mendapat majalah Anime Insider Indonesia yang aku cari, biasa aku lalu baca-baca manga sambil menunggu lagu perpisahan mengalun pertanda tokonya mau tutup.
Hari itu ternyata manga Gunslinger Girl (γ¬γ³γΉγͺγ³γ¬γΌγ»γ¬γΌγ«) volume 3 sudah terbit. Aku cari-cari yang sudah terbuka segelnya kok nggak ada. Ini cuma berarti satu hal, akulah orang yang harus menumpahkan “the first blood“, ya, aku harus jadi orang pertama yang membuka segelnya. Bukan hanya demi aku, tapi juga demi penggemar yang lain, for freedom! for justice! (~halah!). Dulu aku sempat bercerita kalau aku sudah terbiasa dengan perbuatan ini. Pokoknya beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuka segel buku secara diam-diam adalah: 1.Cari tempat yang sepi tapi tidak terlalu sepi, yang penting nggak ada pegawai toko di situ. 2.Pasang mimik muka tak berdosa 3.Lakukan sambil berjalan dan melihat-lihat buku lain, ini perlu latihan memang. 4.Hati-hati terhadap kaca, reflection can be deadly! 5.Buka segel plastik dengan cepat mulai dari sisi samping buku 6.Sembunyikan barang bukti atau segera tinggalkan daerah TKP. 7.Jangan membaca buku tsb di daerah buku yang tersegel semua, it’s ok kok baca novel di daerah komik, gak ada yang perhatiin.
Tapi ternyata malam itu aku sedang apes, udah siap-siap baca manga Gunslinger Girl eh.. tahu tahu dari belakang disapa satpam. Njrit, aku lengah! “Ini plastiknya tadi yang buka siapa mas?”, Petugas itu mengajukan pertanyaan dodol. “Ya jelas aku!” masa nenekku yang sedang di Pekalongan? Kayaknya itu memang petugas yang bertugas khusus mengawasi standing reader seperti aku deh, soalnya pakaiannya lain dari satpam yang biasanya dan kerjaannya mondar-mandir saja di dalam toko sambil berhandy-talkie. Yah, setelah chit-chat sebentar aku bersedia deh beli manga itu. But it;s not bad at all, lagian Gunslinger Girl memang bagus kok.
Iya iya, aku tahu kok dia cuma petugas yang mencari nafkah dan melaksanakan tugasnya dengan baik. Tapi hal itu tidak membuatnya terbebas dari status “musuh” para standing reader kan? hehehe… Ayo para standing reader Semarang, jangan kalah sama petugas dodol itu. Minggu depan harus lebih hati-hati lagi! For justice, for freedom!
standing reader (kosakata ngawur) : maksudnya pecinta buku dengan dana tidak tak terbatas, jadi sering baca sambil berdiri di toko buku, membaca secara keseluruhan, bukan hanya preview saja π





Rest in “pieces” you piece of crap…