Category: Thought & Opinion

kadang otak perlu olah raga biar nggak karatan

  • Hak Absolut untuk Amarah

    Hak Absolut untuk Amarah

    demo ps3

    Aku ini bukan orang yang terlalu concern dengan masalah2 sosial. Bukannya tidak memperhatikan, tentu saja memperhatikan, tapi ya sebatas itu. Selanjutnya hanya berupa pergulatan-pergulatan opini, atau pencernaan yang tanggung dalam pikiranku. Atau, kalo memang topiknya sedemikian membara, maka jadilah bahan bicaraan (dan guyonan) di kala ngobrol ngalor ngidul bersama teman2.

    Tapi bagi sebagian banyak orang, demonstrasi, mungkin adalah salah satu wujud perpanjangan dari opini-opini tadi. Opini yang berbenturan dengan opini dari otoritas yang ada, opini yang tidak menemukan jalan untuk disalurkan, sehingga tumpah. Tumpah dari pikiran, meluber ke jalan-jalan, ke gedung-gedung pemerintahan dan ke halaman pabrik-pabrik. Satu2nya pengalamanku ikut berdemo adalah waktu kelas 1 SMA dulu, tahun 1998, masa ketika “reformasi” adalah kata yang paling populer di Indonesia. Demo yang aku ikutipun adalah berupa demo resmi, serentak dari berbagai instansi di Semarang waktu itu, di mana seluruh murid memang dilibatkan. Aku waktu itu turut membuat spanduk unik ala rakyat, yang memakai koran bekas, dan tanah liat untuk menuliskan kata2nya… ah masa-masa itu 🙂
    (more…)

  • Satu Liter Air Mata dan Sinetron Indonesia

    Satu Liter Air Mata dan Sinetron Indonesia

    aya ikeuchi
    Ikeuchi Aya (gambar diambil dari channel-ai)

    Baru saja aku lihat iklan sinetron di RCTI, berjudul “Buku Harian Nayla“, dan gak tahan untuk menulis ini. Cuma butuh waktu 5 detik bagiku untuk menyadari bahwa sinetron ini jiplakan dari Ichi Ritoru no Namida ( 1 リットル�?�涙), sebuah dorama Jepang. Ichi ritoru no Namida (One Litre of Tears) bercerita tentang Aya Ikeuchi, gadis SMU berusia 15 tahun yang menderita penyakit Spinocerebellar Degeneration yang membuat dirinya kehilangan fungsi otak kecilnya. Penyakit Aya ini berkembang sangat cepat dan Aya perlahan namun pasti menghadapi kematian.

    Doramanya sendiri menceritakan perjuangan Aya untuk tetap bisa menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya, walaupun halangannya bukan main… apalagi menjelang akhir cerita, ketika penyakitnya semakin parah sehinga untuk berbicara saja dia tak mampu dan harus menggunakan papan kata yang ditunjuk memakai jari untuk berkomunikasi. Pokoknya Dorama ini wajib ditonton bagi yang menghargai hidup, ceritanya bukan mengeksploitasi kesedihan, tapi menginspirasi tentang kehidupan. Oh ya, walaupun berjudul Satu Liter Air Mata, lebih baik siapkan satu botol galon kosong, untuk menampung air matamu ketika menonton dorama ini. Damn! harusnya dorama ini berjudul One Gallon of Tears! :((

    Dorama ini mengadaptasi dari sebuah kisah nyata yang dialami oleh Kitou Aya. One Liter of Tears (A Diary of with Tears) adalah judul buku diary yang ditulis oleh Aya. Buku harian ini ditulis oleh Aya Kitou selama ia menghadapi penyakitnya itu, ia terus menulis sampai akhirnya ia tak lagi mampu lagi memegang pena. Buku harian Aya ini kemudian diterbitkan dan banyak menginspirasi orang-orang, baik yang menghadapi penyakit yang sama maupun yang bersyukur masih diberi nikmat kesehatan oleh-Nya. Kabarnya buku ini telah terjual 18 juta copy! Oh iya, buku harian itu diterjemahkan dalam bahasa inggris (still ongoing) oleh Kiwi dan Pye di sini.

    one liter of tears
    buku one liter of tears (gambar diambil dari Wiki.ThePPN)

    Kembali ke sinetron Buku Harian Nayjis tadi, menurut informasi di situs resminya, Cerita dan Skenario ini ditulis oleh Serena Luna. Anjrit! udah mbajak, nggak ngaku pula! Memang, sudah bukan berita baru lagi kalo sinetron itu banyak yang bajakan dari dorama jepang, tapi kali ini kok ya tega banget gitu ya? Hey Serena Luna (siapa sih nama aslimu? dasar ciken!) tahu nggak sih kalau cerita yang kamu bajak itu adalah kisah nyata? Care ngak sih kalau tokoh yang kamu bajak itu bukanlah hasil karangan semata? Ada orang sebenarnya, (yang kini telah beristirahat di alam sana), Ada keluarganya juga, Ada perjuangan yang sesungguhnya, dan ada penderitaan yang sesunguhnya! At least berikan credit ke mereka. Kita harus banyak belajar dari mereka, bukan malah mbajak habis. Kampret kamuh! Kampret SinemArt! Gak usah ditonton! Kesenengen mereka, aku lebih rekomend nonton dvd bajakannya (karena memang ngak tersedia di sini) daripada nonton sinetron bajakannya! >:p
    (more…)

  • di mataku kala gelap, di kulitku kala dingin, di hatiku kala sunyi (Hujan)

    di mataku kala gelap, di kulitku kala dingin, di hatiku kala sunyi (Hujan)

    Petir yang mulai meyambar semenjak sore sudah cukup meyakinkan aku bahwa malam ini pastilah hujan! bukan hujan biasa, bukan sekedar hujan iprit-iprit yang sepertinya cuma ngece kepada petani dan saudara-saudara lain yang membutuhkannya. Hujan ini hujan serius, hujan sebagaimana layaknya hujan. Hujan yang aku dan kamu nantikan.

    Hampir jam 7 malam, belum hujan sih, tapi aku sudah menyambar kunci motor adikku dan segera melesat meninggalkan rumah. Tunggu, kenapa kunci motor milik adikku? Ya itu tadi, mau hujan gitu loh, biarlah yang kehujanan motornya dia yang kebetulan memang sudah kotor duluan. :p mumpung orangnya sedang lengah, sibuk membantai orc dan sejenisnya dalam Warcraft DotA. Ya ini memang perjalanan mencari hujan, menanti dan kemudian merasakannnya. Kulewati jalan Abdul Rahman Saleh, Pamularsih, Suyudono… belum juga hujan, sampai aku teringat.. ah, lupa bawa kantung plastik.. dompet dan hape bisa hancur kehujanan nanti. Mampirlah aku ke Indojanuari (saya tuliskan demikian untuk menghindari unsur spam, silahkan ganti januari dengan nama bulan lain sehingga keseluruhan kata tsb menjadi sebuah nama toko waralaba), membeli colat sebatang dengan motivasi utama mendapatan kantong plastiknya, walau terhadap coklatnyapun aku tetap nafsu juga (tentu saja!)

    Oke, kantong plastik dapet, tapi mana hujannya? Untunglah ketika aku meninggalkan kasir, hujan yang dirindu itu turun juga, tumpah ruah ke bumi ini seakan dia juga rindu pada kita. Ketika pengunjung yang lain menggerutu keras, “Yah, Hujan!”, “Waduh Hujaan!” maka aku bersorak “Yesss.. Hujan!” untungnya cuma dalam hati. :d Selain aku, ternyata mbak penjaga kasir juga tesenyum, mungkin dia juga suka hujan, atau mungkin juga karena karena tulisan besar itu, yang ditempel di meja kasir dan berbunyi “Gratis 1 Kg gula pasir apabila anda tidak mendapat senyum dari petugas kami“. Entahlah, yang jelas sekarang baru perjalanan sesungguhnya dimulai. Sudah lama aku tidak kehujanan malam-malam naik motor. Jadilah perjalanan pengobat rindu ini mulai bergulir, seiring guliran roda motor (adik)ku melewati Tugu Muda, Imam Bonjol, Johar, Kota Lama, Stasiun Tawang, Jurnatan, Dr. Cipto, Peterongan, Sriwijaya, Veteran, Kaligarang, Pamularsih dan sampai akhirnya kembali ke arah Abdul Rahman Saleh. Jalanan begitu sepi, begitu gelap, begitu dingin, padamnya aliran listrik di sebagian besar daerah yang aku lewati seolah-olah ikut memberikan dukungannya pada malam tadi. Namun entah kenapa di tengah semua kesunyian itu, hati ini malah ramai. Mata ini bahkan sering terlena, mungkin juga karena air hujan yang memburamkan mata, tapi untunglah tetes-tetes air hujan yang keras menusuk kulit terus menyuntikan hawa kesadaran. Tiap ruas jalan serasa berbeda, serasa indah.. atau lebih tepatnya damai.
    (more…)

  • There’s a will, There’s a way

    There’s a will, There’s a way

    …or so what I heard.
    Because you know, there a time when the mountain you should get through is extremely high, it’s so high that you’ll start to doubt whether it has a peak or it’s just a mere plain illusion. But fear not, because everything we had in our way, every single obstacle we face, every single pain we endure, will only make us stronger. Like in the law of ToukaKouka in alchemy, they’ll give us something in return, something so valuable that will make us smile, even if we die trying.
    sweet eh? 🙂
    (more…)

  • Tipuan Basbang di Bulan Ramadhan

    Sedang enak-enaknya menunggu menit-menit terakhir menjelang berbuka, eh ada telepun wagu yang masuk. Berikut sepetik percakapan dengan +628567124942 :

    Hallo ini bener dengan nomor IM3?
    – iya. (yo pasti, dasar penipu wagu, mosok petugas IM3 nggak kenal nomor im3!)
    Benar juga ini nomor daerah semarang bukan?
    – benar. (yo mesti, dasar penipu nggambus, mosok gak paham kode areanya? :p )
    Begini, kami dari IM3 pusat Jakarta, menginformasikan bahwa bapak memenangkan program hadiah kami, berupa uang tunai 50 juta beserta pulsa 1 juta.
    – oh ya? (dasar penipu basbang, model nipunya kok itu2 aja, update dong!)
    Benar pak, sekarang apakah bapak punya rekening tabungan?
    – punya. (yaelah, dasar penipu nggak romantis, foreplay ndisik nopo?)
    Rekeningnya di bank apa pak?
    – BCA pak. (BCA dari hongkong? lha wong sebagai mahasiswa Undip, sudah di set as default banknya ya BNI)
    Nomor rekeningnya berapa pak?
    – wah lupa ik.
    Bisa tolong dilihat dulu pak? Bapak ada kartu ATM juga kan?
    – Oke deh, bapak nanti telpun aja lagi ya. (udah males bgt.. bedug maghrib sudah berkumandang, pingin segera hang-up trus nyerbu es blewah yang sudah menggoda…)
    Baik Pak, tapi bapak yang menghubungi saya saja, biar waktunya bisa ditentukan sendiri oleh bapak.
    – ya deh. (Wuu.. dasar penipu norak, bilang saja kalo gak punya modal!)
    tut..tut..

    (more…)

  • Cosplay, Between Fantasy and Reality

    Cosplay, Between Fantasy and Reality

    Tifa Cosplay
    Tifa Cosplay

    Between fantasy and reality, whoa… that’s quite something isn’t it? Whoops! Don’t be discouraged by that exaggerating post title! You won’t find any heavy stuff here, not in my blog. Well, what is cosplay? For those unenlightened ones please read the wiki here. Sorry, but I won’t bother to (re)invent the wheel… *halah!* Bear with me please. 🙂

    This topic crossed to my mind when some crazy dude in Loenpia.net mailing list mentioned about wearing anime costume to a quiz show we’re about to attend (which due to its deadline, I personally doubt its realization.. sorry guys :-p) Wearing anime costume? That’s only means one thing, Cosplay! yay! For me, cosplay means two things :

    1. Draw the line between fantasy and reality
    To be honest, this is my first impression when I saw cosplayers for the first time. It’s quite common reaction for newbie like me back there. But the impression didn’t stop there, until now, sometime watching cosplayers in a convention or show really shock you up. It instantly awakes you from the land of fantasy, and here’s why…

    Well, the reasons are simple. I’m sorry to inform you ladies and gentlemen, in this boring world, there no such thing as (or do exist, but extremely rare) :

    1. Cute, living, girl shaped, personal computer, named Chii, like you Saw on Chobits
    2. Ultra cute girl, red eyed, blue haired, slim enough to fit in a plugsuit, smile only once in her entire life, named Ayanami, like you saw on Evangelion.
    3. Stunningly beautiful, martial art master, named Tifa, like you saw on FF Advent Children.

    And this stupid list goes infinitum..

    So, what I’m about to say is, when we (normal, mere mortals) try to recreate things I listed above, the result is not quite like we expected. And whats sucks about it is : there’s nothing wrong here! It’s all because our limitation as normal human. Maybe we aren’t good-looking enough? Our body are not slim enough (yay!) or not muscular enough? Our skin are too dark or too white? Yup, this is “reality factorâ€?; you can’t do anything to fix it. But hey, don’t get me wrong. I love cosplay (though never really done it). I admire those spirit cosplayers spread, I feel it and I love it. Salute to all of you cosplayers!
    (more…)

  • Rayakan Kemerdekaan

    Sebenarnya jauh hari sebelum hari perayaan kemerdekaan ini datang, sudah banyak yang aku pikirkan dan ingin kusampaikan. Mulai dari pingin desain template baru, menulis postingan yang “dalem” dll. Tapi dasarnya aku ini (sok) sibuk, jadinya ya baru diposting sekarang, itupun sudah banyak yang lupa. Desain template nuansa kemerdekaan inipun sekedar desain tabrak lari, yang diselenggarakan dengan cara tidak seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya… Begitu juga desain 17an di blog Loenpia sebelumnya, cuma “tweak” dikit template lama. Tapi untunglah banyak yang bilang bagus (mungkin sekedar menghibur hehe..). Ah pokoknya kan turut memeriahkan (alesyan!). Oh iya, desain tulisan di banner atas itu, nyontek dari bannernya Zam, cuma jelas masih kalah keren. :-p

    Turutlah Merayakan!

    Merah Putih

    Merdeka! Terserah si pesimis mau ngomong apa, yang jelas Indonesia sudah merdeka. Nasib bangsa ini sekarang bisa ditentukan oleh kita sendiri. Terserah pada kita apakah bangsa ini akan makin terpuruk ataukan makin bersinar. Paling tidak kebebasan itulah yang patut kita syukuri bersama. Masalah kebebasan dari kemiskinan, kebodohan dan ketakutan yang sangat belum merata memang hal yang sangat penting, namun dengan kemerdekaan ini paling tidak modal dasar kita sudah ada. (more…)

  • Mau Bebas Flu Burung? Beli AC!

    Lihat iklan produk Air Conditioner yang baru nggak? Sharp PlasmaCluster (CMIIW). Iklan itu dibintangi oleh Maia Ahmad dari duo Ratu. Di iklan tersebut digambarkan Maia adalah seorang ibu yang sedang bermain dengan anaknya. Tak lama kemudian kakek dan nenek dari anaknya datang, sepertinya untuk melepas rindu dengan sang cucu. Sebelum mereka sempet bertemu fisik dengan sang cucu, ditampakkan wajah sang ibu yang sangat kuatir, kemudian gambar berpindah ke pasangan kakek dan nenek tadi… tapi kali ini dengan tampilan “aura hitam jahat” disekitar mereka… *mengingatkanku pada tim lawan di film shaolin soccer* Jadi singkatnya si Ibu ini menganggap kakek dan nenek ini adalah pembawa virus! lebih khusus lagi disebutkan dalam iklan itu adalah virus flu burung dan polio. Singkat cerita si ibu menyalakan AC tersebut dan virus-virus yang dibawa kakek dan nenek tersebut lenyap semua.. intinya AC tersebut baru saja menyelamatkan nyawa seluruh keluarga.

    Ada suatu hal yang mengusikku di sini. Ok, iklan memang tujuannya untuk menarik perhatian masyarakat, sepertinya apa saja bisa dilakukan, termasuk mengarang dan mengada-ada. Sekarang mari kita lihat dari sisi yang lain. Pertama yang terpenting, patutkah kita menyambut kakek dan nenek yang telah datang mungkin dari jauh dengan susah payah langsung men-judge bahwa mereka pembawa virus? Mereka seharusnya orang yang paling dihormati dalam sebuah keluarga besar. Apa yang akan dilakukan bila seorang anak ikut menonton iklan ini dan kekaprah menarik intinya? Menolak bertemu kakek dan neneknya? Atau minta dibelikan AC? Kedua, virus flu burung sangat sulit untuk berpindah antar manusia, kecuali telah melalui beberapa mutasi (sumber01, sumber02).

    Pembuat iklan ini benar-benar menarik keuntungan dari kondisi masyarakat saat ini dan mengambilnya mentah-mentah. Parahnya lagi produk yang diiklankan bukanlah sebuah produk kesehatan. Ok mungkin bisa membunuh virus, tapi tetap saja itu AC a.k.a Air Conditioner a.k.a pengatur suhu udara, lagipula 68% dari masyarakat membeli AC untuk mendapatkan udara sejuk, bukan untuk hal yang lain. Untuk mencegah flu burung atau polio sangat lebih baik kalau digambarkan masyarakat yang peduli dengan kebersihan rumah atau kebersihan lingkungan sekitar, dalam hal ini saya salut dengan iklan sabun Lifebuoy dimana ada seorang anak kecil yang meng-encourage teman-teman dan warga sekampungnya untuk membersihkan lingkungan. (*sumpah, saya nggak nyepam loh*)

    Para pembuat iklan harusnya lebih peka terhadap hal-hal seperti ini. Aku juga gak mau mengkritik tanpa memberi saran. Daripada menampilkan kakek dan nenek pembawa virus (damn it, terdengar seperti game Resident Evil ya?) Bagaimana kalau mengggambarkan sang bocah pulang dari bermain dengan kondisi lelah dan kotor dan banyak “kuman” kemudian dengan AC penyelamat itu sang bocah menjadi sejuk, bersemangat dan tak lupa kumannya mati semua. Aku rasa hal itu lebih bagus, tidak terlalu mengada-ada dan lebih mendidik. Dalam membuat iklan, mengada-ada itu sepertinya sah saja, seperti sebuah iklan shampo di mana seorang cewek terkena tahi burung di pundaknya dan secara paranoid dikiranya itu ketombe.. (*plis deh!*) tapi itu masih bisa diterima karena tidak menyesatkan aku kira. Tapi kadang kala mengada-ada itu sudah keteraluan.. seperti AC pembasmi virus ini.

  • Cover Tag Tournament

    Sejak mencari ebook menjadi semakin mudah (hehe) aku jarang melihat-lihat bagian buku komputer di Gramedia. Tapi tadi malam iseng saja sekedar melihat apa ada yang bagus dan worth it untuk dibeli. Eh ternyata malah menemukan dua buah buku yang “menarik”, liat gambar di bawah itu. Bukan judul atau isinya yang membuatku tertarik, tapi kovernya. Hahaha.. bagi seorang gamer, gambar-gambar itu sudah akrab sekali.

    Gambar yang pertama adalah Kazuya Mishima dari game Tekken Tag Tournament dan yang kedua adalah Lei Fang dari Dead or Alive 2. Ini namanya pelanggaran. Wah wah, orang bilang “judge not a book by its cover” tapi yang ini sih keterlaluan, dikiranya nggak ada yang tahu kali ya? Mending kalau untuk kover majalah game (maklum lah) Lah ini? Sekedar mengingat saja sebelumnya aku juga menemukan kover buku bergambar Yuna. Ah sudahlah!

    Kazuya Leifan

  • Motor Madness, AHASS = Microsoft ?

    Ah.. 30 menit sebelum pulang nih, cerita dikit ah. Sabtu kemarin kuputuskan untuk menggunakan waktu itu untuk mengurus kedua motorku tersayang. Hal ini terpaksa juga soalnya dua-duanya hampir gak bisa dipakai lagi. Motor yang supra sudah dua minggu ini kubiarkan nganggur karena ban-nya bocor. Mau nambalin kok ya males buanget, soalnya bocornya sudah di rumah. Kalau bocor di jalan sih ya terpaksa nambal kan? Hehehe.. Sedangkan motor yang tiger dari suaranya saja sudah menandakan kalau seakan dia menjerit-jerit minta di service rutin (well, memang kilometer-nya sudah menunjukkan 2500KM lebih sih).

    Pagi itu aku berangkat ke AHASS (Astra Honda Authorized Service Station) di Kaligarang. Datangku sudah agak siang eh ternyata masih nunggu juga, belum buka bengkelnya, padahal sudah jam 8.30an. Sejak dua tahun yang lalu aku servisnya di sini. Aku punya kenangan buruk soal AHASS 002 (ya, nomor dua lho se-nasional!), tapi itu cerita yang lain.

    Kalau soal urusan motor memang aku agak-agak buta (atau paling nggak rabun yang parah). Sedikitpun nggak ngerti, apa nama-nama bagiannya, cara merawatnya bahkan kadang nggak sadar kalau ada bagian yang rusak. Diantara teman-teman bolehlah aku sedikit nyombong kalau soal komputer. Ditanyain apa sama teman-teman juga pasti bisa jawab. Dipanggil minta tolong pasangin hardware pernah, instalin OS pernah, nguber virus pernah (jadi inget sama hebohnya virus CIH chernobyl jaman SMA dulu..) dan segala macemnya. Tapi kalau soal motor, (x_x) aku blas mboh nggak ngerti. Dulu tempatku mencari jawaban adalah Deny (Pa kabar Den?) tapi sekarang dah jarang ketemu karena aktivitas masing-masing..

    Nah orang-orang seperti aku inilah yang diharapkan oleh bengkel-bengkel resmi seperti AHASS, mereka kayaknya asal aja minta sesuatu untuk diganti, dibelikan baru dan macem-macem. “Mas ini perlu diganti, mas itu juga perlu diganti,eh ini juga diganti….” Dan jujur aja aku juga nggak begitu peduli. Yang aku concern cuma pokoknya kau mau motorku keluar dari sini beres! sehat walafiat tak kurang suatu apa. Kalaupun dia bohong atau melebih-lebihkan mana aku tahu? Kecuali kalau dia bilang “Mas, ini body-nya penyok harus diganti!” nah baru aku tahu kalau dia bohong. Soalnya tingkat pengetahuanku memang sebatas itu kali ya. Padahal kalau aku misalnya mudeng dunia motor ini, pasti aku aku akan bisa lebih pandai, tak menerima semua permintaan dari AHASS dengan begitu mudahnya. Mungkin aku akan menemukan bengkel biasa dengan mekanik-mekanik berbakat, yang kenyang dengan pengalaman, yang bisa membuat motorku jauh lebih baik, jauh lebih sehat, dengan biaya yang jauh lebih murah. Ya nggak?

    Aku jadi mikir. Dulu aku sering heran kok banyak amat ya orang yang mau-maunya membuang uang begitu banyak demi mendapat service support software. Mengapa mereka seakan tak mau tahu tentang dunia software yang sebenarnya bahwa mereka bisa mendapatkan fungsi dan fasilitas yang sama dengan biaya yang lebih murah. Yah misalnya dengan menggunakan produk opensource? Atau menggunakan CMS gratis yang banyak tersedia? Tidak, mereka memilih layanan yang sudah jadi, tinggal pakai kalaupun ada yang rusak ya telepon penjualnya beres! Kayaknya ada kemiripan ya dengan kasusku? Tinggal ganti aja kata “AHASS” dengan “Microsoft“, “Aku” dengan “Corporat” dan “Bengkel biasa tapi berbakat” dengan “Open Source“. Dan Voila! kita mendapat dua fenomena yang sama persis. Ah memang Knowledge is Power. Pengetahuan adalah Kekuatan!

    Dan lanjut lagi setelah servis, aku menge-las-kan standard motor itu di daerah Banjir Kanal. Ini juga sudah lama ini, sudah sekitar 3 bulanan akau biarkan standar tengah motorku yang hampir putus. Ya, soalnya kan masih ada standard samping. hehehe.. Lanjut lagi aku cucikan sekalian motorku wah ternyata kalau bersih lumayan keren juga yah. Tapi yang sedikit sayang itu adalah bercak tahi burung berwarna putih di kaca spedometer-ku juga ikut hilang! Padahal sumpah bentuknya nyeni lho.. dulu sekitar sebulan yang lalu aku “dapatkan” waktu parkir di bawah pohon mangga depan kost-nya si Amed. Bentuknya agak-agak mirip nyala api begitu, nyala api yang terbuat dari tahi burung! hehehe.. Ah ternyata setelah balik ke rumah eh malah males ah buat ngurus yang supra (nambal ban). minggu depan kali!