{"id":224,"date":"2006-11-13T03:18:41","date_gmt":"2006-11-12T20:18:41","guid":{"rendered":"http:\/\/blog.budiyono.net\/2006\/11\/13\/di-mataku-kala-gelap-di-kulitku-kala-dingin-di-hatiku-kala-sunyi-hujan\/"},"modified":"2026-01-06T03:04:46","modified_gmt":"2026-01-06T03:04:46","slug":"di-mataku-kala-gelap-di-kulitku-kala-dingin-di-hatiku-kala-sunyi-hujan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/2006\/11\/13\/di-mataku-kala-gelap-di-kulitku-kala-dingin-di-hatiku-kala-sunyi-hujan\/","title":{"rendered":"di mataku kala gelap, di kulitku kala dingin, di hatiku kala sunyi (Hujan)"},"content":{"rendered":"<p>Petir yang mulai meyambar semenjak sore sudah cukup meyakinkan aku bahwa malam ini pastilah hujan! bukan hujan biasa, bukan sekedar hujan<em> iprit-iprit<\/em> yang sepertinya cuma ngece kepada petani dan saudara-saudara lain yang membutuhkannya. Hujan ini hujan serius, hujan sebagaimana layaknya hujan. Hujan yang aku dan kamu nantikan.<\/p>\n<p>Hampir jam 7 malam, belum hujan sih, tapi aku sudah menyambar kunci motor adikku dan segera melesat meninggalkan rumah. Tunggu, kenapa kunci motor milik adikku? Ya itu tadi, mau hujan gitu loh, biarlah yang kehujanan motornya dia yang kebetulan memang sudah kotor duluan. :p mumpung orangnya sedang lengah, sibuk membantai orc dan sejenisnya dalam <a href=\"http:\/\/www.dota-allstars.com\/\">Warcraft DotA<\/a>. Ya ini memang perjalanan mencari hujan, menanti dan kemudian merasakannnya. Kulewati jalan Abdul Rahman Saleh, Pamularsih, Suyudono&#8230; belum juga hujan, sampai aku teringat.. ah, lupa bawa kantung plastik.. dompet dan hape bisa hancur kehujanan nanti. Mampirlah aku ke Indojanuari (saya tuliskan demikian untuk menghindari unsur spam, silahkan ganti januari dengan nama bulan lain sehingga keseluruhan kata tsb menjadi sebuah nama toko waralaba), membeli colat sebatang dengan motivasi utama mendapatan kantong plastiknya, walau terhadap coklatnyapun aku tetap nafsu juga (tentu saja!) <\/p>\n<p>Oke, kantong plastik dapet, tapi mana hujannya? Untunglah ketika aku meninggalkan kasir, hujan yang dirindu itu turun juga, tumpah ruah ke bumi ini seakan dia juga rindu pada kita. Ketika pengunjung yang lain menggerutu keras, &#8220;Yah, Hujan!&#8221;, &#8220;Waduh Hujaan!&#8221; maka aku bersorak &#8220;Yesss.. Hujan!&#8221; untungnya cuma dalam hati. :d Selain aku, ternyata mbak penjaga kasir juga tesenyum, mungkin dia juga suka hujan, atau mungkin juga karena karena tulisan besar itu, yang ditempel di meja kasir dan berbunyi &#8220;<em>Gratis 1 Kg gula pasir apabila anda tidak mendapat senyum dari petugas kami<\/em>&#8220;. Entahlah, yang jelas sekarang baru perjalanan sesungguhnya dimulai. Sudah lama aku tidak kehujanan malam-malam naik motor. Jadilah perjalanan pengobat rindu ini mulai bergulir, seiring guliran roda motor (adik)ku melewati Tugu Muda, Imam Bonjol, Johar, Kota Lama, Stasiun Tawang, Jurnatan, Dr. Cipto, Peterongan, Sriwijaya, Veteran, Kaligarang, Pamularsih dan sampai akhirnya kembali ke arah Abdul Rahman Saleh. Jalanan begitu sepi, begitu gelap, begitu dingin, padamnya aliran listrik di sebagian besar daerah yang aku lewati seolah-olah ikut memberikan dukungannya pada malam tadi. Namun entah kenapa di tengah semua kesunyian itu, hati ini malah ramai. Mata ini bahkan sering terlena, mungkin juga karena air hujan yang memburamkan mata, tapi untunglah tetes-tetes air hujan yang keras menusuk kulit terus menyuntikan hawa kesadaran. Tiap ruas jalan serasa berbeda, serasa indah.. atau lebih tepatnya damai.<br \/>\n<!--more--><br \/>\nBelum juga tiba kembali di rumah, sudah kubayangkan sehabis ini aku akan mandi, menghidupkan komputer dan mendengarkan koleksi mp3 <abbr title=\"JapanesePop\">Jpop<\/abbr> baru (upeti dari <a href=\"http:\/\/didut.nomadlife.org\">mas Adi<\/a>), makan coklat yang kubeli tadi, meneruskan membaca buku <a href=\"http:\/\/www.amazon.com\/Perfume-Story-Murderer-Patrick-Suskind\/dp\/0375725849\/sr=1-1\/qid=1163360075\/ref=pd_bbs_sr_1\/104-1406625-6343952?ie=UTF8&#038;s=books\">Perfume<\/a> yang kubeli kemarin&#8230; sambil menunggu kantuk datang, sebuah rencana sempurna untuk mengakhiri malam, ah nikmatnya hidup, terima kasih ya Tuhan! Eit.. tunggu dulu.. sampai kembali di rumah ternyata listriknya juga padam. Yah.. buyar sudah rencana mapan tadi, malahan adanya repot pulang basah kuyub sementara rumah dalam keadaan gelap. Hmm.. mungkin terima kasihku telat, sehingga Tuhan sedikit mengingatkan. \ud83d\ude42 Untunglah, tak sampai satu jam kemudian listrik kembali hidup, namun jelas rencana sempurna tadi tak bisa kujalankan, salah satu sebabnya karena coklatnya sudah keburu berpindah ke sistem pencernaanku. Yah, mau gimana lagi makan kan nggak perlu penerangan lampu. :p Ya sudahlah, hidupkan komputer.. dan menulis blog ini.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/i18.photobucket.com\/albums\/b122\/boku_baka\/night_rain.jpg\" alt=\"indah kala hujan\" \/><\/p>\n<p>Btw, gambar diatas itu adalah lampu merah di daerah depan Sri Ratu Peterongan, diambil menggunakan kamera <abbr title=\"maksimum resolusinya 640 x 480\">VGA<\/abbr> dari hape, night mode, hujan-hujan, diatas motor yang melaju sangat pelan. Indah bukan? ah, paling tidak menurutku indah \ud83d\ude42 seperti apa yang kulihat malam ini, segalanya biasa aku lewati, sering aku lihat, namun jarang pernah kuperhatikan, ternyata begitu indah. Cuma karena aku bodoh, maka memerlukan hujan sebagai katalisnya. \ud83d\ude09<\/p>\n<p><strong>p.s :<\/strong> untuk melihat gambar tsb dalam warna aslinya, coba lakukan invert color. MS. Pain(t): &#8220;image &raquo; invert colors&#8221; atau dari Photoshop: &#8220;Image &raquo; Adjustments &raquo; Invert.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Petir yang mulai meyambar semenjak sore sudah cukup meyakinkan aku bahwa malam ini pastilah hujan! bukan hujan biasa, bukan sekedar hujan iprit-iprit yang sepertinya cuma ngece kepada petani dan saudara-saudara lain yang membutuhkannya. Hujan ini hujan serius, hujan sebagaimana layaknya hujan. Hujan yang aku dan kamu nantikan. Hampir jam 7 malam, belum hujan sih, tapi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1076,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-224","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opiniku"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/224","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=224"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/224\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1801,"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/224\/revisions\/1801"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1076"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=224"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=224"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=224"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}