{"id":258,"date":"2007-04-30T16:24:59","date_gmt":"2007-04-30T09:24:59","guid":{"rendered":"http:\/\/blog.budiyono.net\/2007\/04\/30\/mbah-ginem-menanti-kantuk\/"},"modified":"2026-01-06T03:04:12","modified_gmt":"2026-01-06T03:04:12","slug":"mbah-ginem-menanti-kantuk","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/2007\/04\/30\/mbah-ginem-menanti-kantuk\/","title":{"rendered":"Mbah Ginem menanti kantuk"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/i18.photobucket.com\/albums\/b122\/boku_baka\/mbah_ginem_01.jpg\" alt=\"mbah ginem\" \/><\/p>\n<p>Ketika aku menghampirinya dan meminta untuk mengambil gambarnya, dia segera saja menjadi gugup dan bingung, <em>Waduh, kula kedah pripun niki mas? potone ten pundi?<\/em> Perlu beberapa saat untuk menjelaskan keadaan saat ini, bahwa akulah pihak yang butuh, akulah yang seharusnya bersifat &#8220;menghamba&#8221; pada saat itu.<\/p>\n<p>Namanya saat masih bocah adalah Ginem, namanya setelah menikah menjadi Prawiro Ginem. Pekerjaan sehari-harinya, atau mungkin bisa dibilang hidupnya, adalah berjualan umbi-umbian dan bumbu-bumbu di Pasar Bulu Semarang. Saat kutemui dia tengah asyik mengupas kulit kacang tanah, padahal waktu itu sudah lewat jam 10 malam. Ngantos jam pinten mangke nguliti kacangipun mbah? &#8220;<em>Wah nggih sakngantuke mripat mas, mangke nek wis ngantuk nggih garek nglekar&#8230;<\/em>&#8221; Yang dimaksud tempat <em>nglekar<\/em>-nya mbah Ginem itu juga di los tempat duduknya saat ini, di sebelahnya salah seorang temannya sesama pedagang telah terlebih dulu tertidur.<\/p>\n<p>Mbah Ginem sudah tak ingat lagi berapa usianya, menurutnya kira-kira sudah 90an tahun. Dia juga sudah tak ingat lagi, sejak kapan ia mulai berdagang di Pasar Bulu ini. Menurutnya dia sudah berjualan di pasar ini, bahkan sejak nama pasarnya belum Bulu. Rumiyin mriki naminipun Pasar Seng mas, demikian ia menjelaskan. Aku sendiri malah baru tahu&#8230;<br \/>\n<!--more--><\/p>\n<p>Ketika aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya, apa makna hari kartini, yang baru saja berlalu itu padanya? dia menjawab &#8220;Kulo mboten ngertos mas, sampun dangu sanget kulo mboten nonton tipi&#8230;&#8221; Tidak nyambung, dan akupun memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh lagi tentang hal itu.<\/p>\n<p>Ketika aku berpamitan, hendak menyudahi gangguanku itu, perlu tiga kali aku memintanya sebelum ia mau bersalaman denganku, alasannya tangannya kasar dan kotor terkena kulit kacang. Ah mbah, kalau konteksnya tentang kegigihan dan perjuangan sih, bersihnya tangan tak ada hubungannya dengan jumlah debu atau kulit kacang yang menempel&#8230;<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/i18.photobucket.com\/albums\/b122\/boku_baka\/mbah_ginem_02.jpg\" alt=\"mbah ginem\" \/><\/p>\n<p>Mbah Ginem adalah kaum Kartini, Entah masa kini atau bukan, yang jelas lajur kehidupan mbah Ginem telah ikut sampai pada masa kini. Mbah Ginem adalah kaum Kartini, entah sosok yang cerdas atau bukan, kalaupun parameternya adalah pendidikan formal, yang jelas kalau soal kegigihan, ia tak perlu diragukan lagi. Mungkin mbah Ginem tak terlihat oleh kita, namun ia ada di sana. Mbah Ginem adalah sebuah potret.<\/p>\n<p>Baiklah, selamat tidur mbah Ginem&#8230;<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/loenpia.net\/blog\/wp-content\/uploads\/2007\/04\/tag-lomba-photoblog.gif\" alt=\"lomba fotoblog loenpia\" \/><\/p>\n<div align=\"right\"><small>Foto diambil Sabtu, 28 April 2007, Lokasi Pasar Bulu Semarang, Kamera Canon Powershot A520<\/small><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketika aku menghampirinya dan meminta untuk mengambil gambarnya, dia segera saja menjadi gugup dan bingung, Waduh, kula kedah pripun niki mas? potone ten pundi? Perlu beberapa saat untuk menjelaskan keadaan saat ini, bahwa akulah pihak yang butuh, akulah yang seharusnya bersifat &#8220;menghamba&#8221; pada saat itu. Namanya saat masih bocah adalah Ginem, namanya setelah menikah menjadi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1049,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[46,66],"class_list":["post-258","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opiniku","tag-life","tag-thought"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/258","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=258"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/258\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1772,"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/258\/revisions\/1772"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1049"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=258"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=258"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=258"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}