{"id":298,"date":"2008-04-11T14:29:48","date_gmt":"2008-04-11T07:29:48","guid":{"rendered":"http:\/\/blog.budiyono.net\/2008\/04\/11\/doki-doki-suru-wave-hypothesis-pada-byousoku-5cm-sebuah-analisis-untuk-orang-awam\/"},"modified":"2026-01-06T03:02:57","modified_gmt":"2026-01-06T03:02:57","slug":"doki-doki-suru-wave-hypothesis-pada-byousoku-5cm-sebuah-analisis-untuk-orang-awam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/2008\/04\/11\/doki-doki-suru-wave-hypothesis-pada-byousoku-5cm-sebuah-analisis-untuk-orang-awam\/","title":{"rendered":"Doki-Doki Suru Wave Hypothesis pada Byousoku 5CM : Sebuah Analisis untuk Orang Awam"},"content":{"rendered":"<p>Daripada blog ini terancam masuk kuburan karena sangat jarang apdet, dan tiap 3 bulan aku kesel nerima tagihan hostingnya.. damn it! maka marilah kita tuliskan kembali hal-hal fenomenal di sini. Pada kesempatan kali ini, mari kita telaah sebuah anomali yang terjadi pada <a title=\"Byousoku 5cm Wiki\" href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Byousoku_5cm\">Byousoku 5cm<\/a>. Film anime drama yang saking indahnya konon bisa membuat lelaki sejati yang paling tangguh sekalipun sampai menitikkan air mata. Eh tapi saya nggak lho.. paling cuma mimbik-mimbik saja.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/i18.photobucket.com\/albums\/b122\/boku_baka\/byousoku5cm.jpg\" alt=\"Byousoku\" \/><\/p>\n<p>Untuk lebih jelasnya tentang anomali ini, bisa dilihat selengkapnya pada blog <a title=\"Id-Anime\" href=\"http:\/\/blog.id-anime.info\/?p=11\">komunitas kaum melankolis ini<\/a>. Jadi menurut pendapat oknum tersebut, telah terjadi kesalahan pada adegan di stasiun, di mana si kanojo, Akari, tertunduk menangis dan air matanya jatuh ke tempat yang tidak semestinya. Hal ini dianggap sebuah anomali. Sungguh ini adalah kezaliman perasaan! tak lebih adalah sebuah ungkapan kegersangan hati dari pencetusnya, sebagaimana telah dilantunkan oleh Rosa &#8220;<em>desir pasir di padang tandus.. segersang pemikiran hati~&#8230;<\/em>&#8221; * ambil mic\ufffd *<br \/>\n<!--more--><br \/>\nHal seperti ini kalau ditinjau oleh seorang seniman cinta dan keadilan seperti saya, sungguh sebuah hal yang mudah. Kalau di anime-anime, sering diteriakkan menjadi &#8220;<em>Kantan Da<\/em>&#8220;!!! dengan tangan terkepal dan wajah bercahaya oleh tokohnya. <a title=\"Makoto Shinkai\" href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Makoto_Shinkai\">Makoto Shinkai<\/a> sebagai pembuat Byousoku memang saya akui kejeniusannya, sejak karyanya terdahulu dalam <a title=\"Place promised in Our Early Days\" href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/The_Place_Promised_in_Our_Early_Days\">Kumo no muko fummo fummo fumoffu&#8230;<\/a> Ah, saya lupa judulnya, pokoknya yang artinya &#8220;The Place Promised in Our Early Days&#8221; itu memang sudah terlihat taste-nya yang memang mecing dengan selera saya. Ibaratnya kalau sisi gelap kita bisa mengandalkan <a title=\"Hideaki Anno\" href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Hideaki_Anno\">Hideaki Anno<\/a> yang suskses membuat orang-orang jadi depresi dan mengalami gangguan mental permanen, maka di sisi terang dan sebagai pengobat jiwa, adalah si Makoto Shinkai ini, yang memberi kesyahduan dalam hati.<\/p>\n<p>Kembali ke anomali tadi, satu faktor penting yang dilupakan pada anomali tadi adalah &#8220;Rabu&#8221;. Astaga, bagaimana mungkin hal ini bisa tidak masuk dalam perhitungan, padahal sepanjang film itu, hal inilah yang menjadi concern utamanya bukan? Siapapun juga tahu, kalau Rabu sudah mendekam dihati, hal-hal yang tak mungkin akan sering terjadi, yang oleh orang luar sering disebut sebagai anomali. Pdahal bukan! Sungguh, bukan!<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/i18.photobucket.com\/albums\/b122\/boku_baka\/byousoku-5cm-namida-hypothesis.jpg\" alt=\"Doki Doki Hypothesis\" \/><\/p>\n<p><strong>Doki-Doki Wave<\/strong><br \/>\nAkari, ydang sudah lama menunggu di stasiun (mana dingin diluar turun salju) akhirnya bisa bertemu dengan kekasihnya. Tentu ritme hatinya (jantung juga) tidak akan bisa normal bukan? Kalau dari luar bisa dengar oleh telinga awam dengan BUNYI &#8216;dag dig dug&#8221; (doki-doki). Nah memangnya bunyi ini asal muncul saja? tentu tidak bukan? Berikut kutipan dari <a title=\"Sound\" href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Sound\">Wiki tentang Sound<\/a> :<\/p>\n<blockquote><p>Sound is the vibration of matter, as perceived by the sense of hearing.<br \/>\nFor humans, hearing is limited to frequencies between about 20 Hz and 20000 Hz<\/p><\/blockquote>\n<p>Jadi, definisi bunyi menurut cakupan manusia adalah hasil dari getaran benda yang berkisar anatara 20 &#8211; 20.000 Hz. Jadi jelas di sini ada yang bergetar. Dan apakah yang sedang bergetar itu saudara-saudara? <strong>HATI<\/strong>. Ingat, ini masih dalam suasana rabu-rabu.<\/p>\n<p>Sampai di sini kita sepakat karena ada bunyi doki-doki yang dihasilkan, maka ada benda yang bergetar. Kembali ke teori Fisika dasar, bunyi doki-doki yang kita dengar adalah getaran yang sampai ke reseptor tulang pendengar di telinga tengah kita, jelas bunyi tersebut merambat. Dan disebut apakah getaran yang meerambat? <strong>GELOMBANG \/ WAVE!!<\/strong>. Nah, dari sini kita sudah mulai mendapat titik terang, benang merah dari semua kasus yang rumit ini. Dan hari ini saya canangkan sebagai penemuan doki-doki wave. (tadinya mau saya namakan boku_baka wave, tapi pasti banyak yang protes) tolong catat saya dalam list calon penerima hadiah Nobel.<\/p>\n<p><strong>Dualisme Bunyi<\/strong><br \/>\nTunggu, saya tahu kok, <a title=\"Wave - Partcle Duality\" href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Wave-particle_duality\">Prinsip Dualisme Gelombang dan Partikel<\/a> sampai saat ini ditujukan untuk Cahaya. Dimana sebuah matter bisa dipandang sebagai bentuk materi \/ partikel dan juga bisa dipandang sebagai bentuk gelombang. Namun para peneliti itu bukan OTAKU! Andai saja mereka tercerahkan pemikirannya pasti tidak akan menyangkal bahwa Bunyi juga memiliki konsep dualisme sebagaimana cahaya. Butuh bukti? Sebenarnya banyak sekali yang tersedia, namun saya cari menggunakan google images, berikut yang bisa saya dapatkan:<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/i18.photobucket.com\/albums\/b122\/boku_baka\/particle_and-wave.jpg\" alt=\"Dual\" \/><\/p>\n<p>Scene dari salah satu anime paling sux, <a title=\"Dual Pararel Trouble Adventure\" href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Dual!_Parallel_Trouble_Adventure\">Dual<\/a> evangelion wannabe. Kita liat si cewe yang marah-marah ke bapak itu. Tentunya marah itu mengeluarkan bunyi kan? Dan kita tak sampai perlu mengetahui tingkat desibelnya untuk bisa melihat efek dari bunyi itu. Lihat bapak itu, matanya sampai memicing, kacamatanya sampai miring.. (berima!) terkena efek bunyi. Ini contoh yang sangat jelas bahwa bunyi seperti halnya cahaya juga mempunyai prinsip dualisme gelombang dan partikel. Malah pada beberapa kasus sampai ada yang rambutnya tertiup atau terjungkal ke belakang. Jangan2 bunyi adalah sumber energi potensial bagi bumi pasca habisnya energi fosil nanti? Entahlah, kalau hal ini perlu penelitian lebih lanjut lagi sih.<\/p>\n<p>Kalau dalam percobaan dualisme cahaya, sinar lampu senter bisa menggerakkan baling-baling kertas, maka jelas pada Byousoku prinsip dualisme bunyi yang dihasilkan oleh doki doki wave yang dipicu oleh rabu-rabu dalam hati, ternyata bisa mendorong air mata yang sedang jatuh, segingga terdorong dan mendarat di tempat yang tidak semestinya. Terbukti sudah, betapa tingkat detilnya film Byousoku 5CM ini. Tentu saya juga sadar bahwa tidak semudah itu sebuah gelombang fisik yang dihasilkan oleh perasaan cinta bisa mempengaruhi gravitasi yang menarik air mata tadi untuk turun.<\/p>\n<p><em><img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/i18.photobucket.com\/albums\/b122\/boku_baka\/signaling.jpg\" alt=\"signal\" \/><\/em><\/p>\n<p><strong>Biologic Factor<\/strong><br \/>\nAir mata yang diteteskan Akari, adalah air mata cinta, air mata bahagia, yang bisa dilihat dengan mata awam memang berbeda dari air mata biasa, misal seperti air mata saat kita nangis kejatuhan buah kelapa atau nangis ketika kaki menginjak pecahan beling. Air mata ini jelas berbeda, lebih murni dan jernih. Tidak, saya tidak ingin menyamakan teori ini dengan teori wagu milik <a title=\"Messege From The Water\" href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Masaru_Emoto\">Masaru Emoto<\/a> itu. Saya hanya mendasarkan pada pemikiran normal dan rasional. Karena lebih jernih, otomatis kandungan pencemarnya jauh lebih sedikit kan? masa-nya lebih kecil kan? gaya tarikan gravitasinya juga lebih kecil kan? sebuah teori yang logis bukan?<\/p>\n<p><em><img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/i18.photobucket.com\/albums\/b122\/boku_baka\/doki-doki_eyes.jpg\" alt=\"eyes\" \/><\/em><\/p>\n<p>Mengenai bagaimana gelombang doki-doki ini bisa mencapai mata, (selain merambat keluar melalui dada). Apa mungkin faktor perasaan bisa mempengaruhi kelenjar air mata untuk beroperasi lebih optimal? Entahlah, jelas saya tidak berkompeten untuk ini, saya cuma lulusan teknik elektro divisi pupuk bawang, karena lebih berkonsentrasi pada komputer dan benda benda lain yang mempunyai alamat IP. Tapi saya coba googling tadi tentang struktur mata manusia dan ternyata memang ada unsur doki-doki di sana.<\/p>\n<p>Demikian, <em>Quod Erat Demostrandum<\/em>..<\/p>\n<p>Salam,<br \/>\n<strong>boku_baka, PhD.<\/strong><br \/>\nbakal calon penerima Nobel<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Daripada blog ini terancam masuk kuburan karena sangat jarang apdet, dan tiap 3 bulan aku kesel nerima tagihan hostingnya.. damn it! maka marilah kita tuliskan kembali hal-hal fenomenal di sini. Pada kesempatan kali ini, mari kita telaah sebuah anomali yang terjadi pada Byousoku 5cm. Film anime drama yang saking indahnya konon bisa membuat lelaki sejati [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[31,57,66],"class_list":["post-298","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-opiniku","tag-fun","tag-random","tag-thought"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/298","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=298"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/298\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1735,"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/298\/revisions\/1735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=298"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=298"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/budiyono.net\/blog\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=298"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}