
Sepanjang hidup ini, setuju nggak kalau kita melalui berbagai tahap pendewasaan ataupun tahap pemikiran? Apa yang kita pikir benar beberapa tahun yang lalu ternyata kini jelas-jelas salah, apa yang kita pikir hebat saat ini mungkin akan kita anggap payah beberapa tahun kedepan. Dan kalau kita sudah pernah berpola pikir seperti pola pikir orang yang kita kenal sekarang, bagaimana menurutmu?
Aku pernah berjumpa dengan berbagai macam orang, dengan berbagai macam pemikiran dan pendapatnya masing-masing. Namun diantara sekian banyak jenis orang tersebut, the most irritating one adalah orang dengan kepribadian buatan. Orang dengan kepribadian yang dia latih sendiri, berulang-ulang, sampai mungkin ia sendiri lupa bagaimana sifat dirinya yang sebenarnya.
Aku kenal betul orang-orang seperti ini, hanya bicara sekitar 10 menit dengan mereka, sensor-ku pun sudah bisa menyatakan. “Hu-uh, this type of dude…“. Ok, aku memang nggak punya dendam pribadi dengan orang-orang seperti ini, ini hanya unek-unek jangan diambil hati…
Belum mengerti maksudku? Ok ini ciri-ciri typical mereka, khususnya di seputar kantor dan bisnis. Mereka bicara dengan bahasa yang luar bisa intelek, dengan kosakata dan istilah-istilah terbaru. Bicaranya teratur, terencana seolah-olah sedang menjelaskan teori roket, khawatir orang lain susah mengerti apa yang mereka bicarakan. Pada setiap kesempatan mereka selalu berusaha untuk menggunakan bahasa inggris tanpa alasan, padahal dia, lawan bicaranya dan tempatnya berbicara adalah murni jowo! Itu masih mending kalau bahasa inggrisnya bagus, kebanyakan malah belepotan dan terbata-bata, grammarnya salah-salah pula! dan dengan pedenya wajah mereka menggambarkan kepercayaan diri itu.. Bah!
Mereka sering tampil untuk menonjol, mengemukakan pendapat atau nimbrung pada tempat yang bukan habitatnya, mengerjakan hal yang bukan kewajibannya, mengkritik hal-hal yang sama sekali bukan keahliannya dan menyembunyikan kebodohannya dengan berbagai kata-kata dan istilah teknis yang manis. Kebanyakan pula mereka gaptek! kalau merasa terpojok soal pengetahuan ia kan segera berdalih. “Oh iya.. itu sebenarnya saya juga pernah, tapi bla bla bla (isikan istilah-istilah teknis sosial di sini)…“. Yang lebih ekstrim lagi ada yang kalau disapa “apa kabarnya?” mereka akan menjawab (atau lebih tepatnya berteriak) “luar biasa baik!“, sambil mengepalkan tangan ke atas… atau bisa bahkan juga menolak menggunakan salam selamat siang, sore atau malam. Maunya hanya selamat pagi, tak peduli itu sudah lewat jam 7 malam. Alasannya “selamat pagi” lebih menimbulkan semangat katanya. Believe me, I’ve met those people, and met one recently…
Aku tahu benar sumber pengetahuan orang-orang ini, buku buku pengembangan diri seperti Seri buku seperti Personality Plus, Seven Habbit for.., Ten Minutes… pastilah menjadi sumber inspirasi hidup mereka. Oh iya satu lagi buku tentang ESQ pasti juga menjadi salah satu kitab sucinya. Mencoba memahami lingkaran-lingkaran rumus ESC dan berpikir bahwa kepribadian dan otak manusia itu bisa dirumuskan seperti itu, dirumuskan oleh manusia pula, bah! Dan payahnya lagi mereka merasa hebat dengan begitu, merasa bahwa cuma merekalah yang tahu dan cukup pintar untuk membaca buku itu. Sepertinya tidak sadar bahwa buku itu sudah tercetak jutaan copy di dunia. Dan kalau ada orang yang tidak menerapkan rumus-rumus itu bukan berarti mereka tidak “tercerahkan”, tapi karena mereka cukup pintar untuk tidak didikte.. mending kalau didikte menulis, lah ini didikte kepribadian. bah! bah! bah!
Parahnya lagi banyak orang-orang yang masih “normal” sedang merintis jalan untuk kesana, berpendapat bahwa hal itu adalah the next level of personality. Buku-buku itu yang aku sebutkan tadi atau kekaguman buta sering menjadi awalnya.
Sebenarnya aku malah yakin bahwa justru orang-orang seperti inilah yang nantinya akan dimanfaatkan oleh mastermind yang sesungguhnya. Menjadi bisa dikendalikan. Menjadi sumberdaya yang berkualitas, tapi dengan tingkat kualitas tepat seperti yang dibutuhkan. Banyak perusahaan-perusahaan mengikutkan karyawan-karayawannya untuk mengikuti proses pembentukan kepribadian ini, dengan dalih pendidikan profesionalitas, rehat outbond dan segala macam, apapaun namanya, fungsinya sama saja ” cuci otak!”
Tanpa ada maksud ofensif kepada siapapun, sifat-sifat seperti ini menurut pendapatku dekat sekali dengan dunia MLM, Network Marketing atau apalah namanya. Dengan membaca bukunya Robert T Kiyosaki dan mendengarkan penceramah dalam sebuah pertemuan, DUAR! seperti kesambar petir. “This is it. This is my solution, this is my next world!” Dan menganggap orang lain yang tidak ikut sebagai orang yang masih dalam kegelapan yang perlu pencerahan. Coba aku tanya pada para peserta pemasar jaringan, Siapa Direktur utama di perusahan anda? General managernya? maksudnya yang benar-benar duduk menjabat di perusahan tersebut (karena tiap institusi resmi pastilah mempunyainya), bukan jabatan buatan seperti pearl maganer, crown manager atau manager-manager sebutan yang lain. Well, merekalah mastermind yang sesungguhnya. Kaya raya dan cukup anonymous.
Huh, hampir semua buku-buku itu aku baca dan toh tetap bisa menjadi diriku sendiri. Makanya aku sering bilang kalau baca buku, bacalah dari semua sisi. Kalau kau membaca buku tentang Teologi, bacalah juga buku tentang Marxisme. Kalau kau baca buku karangan Mahatma Ghandi, bacalah juga buku karangan Machiaveli. Karena sesungguhnya dunia ini tidaklah sesederhana seperti hitam putih. Ketahuilah semuanya, kemudian tentukan sendiri pilihanmu.
p.s : dalam menulis blog ini, sesekali juga aku pakai bahasa inggris, bukannya apa-apa sih, cuma karena enak saja, menulisnya mengalir.





