Category: Thought & Opinion

kadang otak perlu olah raga biar nggak karatan

  • Mr. Persona lity Plus

    who are you

    Sepanjang hidup ini, setuju nggak kalau kita melalui berbagai tahap pendewasaan ataupun tahap pemikiran? Apa yang kita pikir benar beberapa tahun yang lalu ternyata kini jelas-jelas salah, apa yang kita pikir hebat saat ini mungkin akan kita anggap payah beberapa tahun kedepan. Dan kalau kita sudah pernah berpola pikir seperti pola pikir orang yang kita kenal sekarang, bagaimana menurutmu?
    Aku pernah berjumpa dengan berbagai macam orang, dengan berbagai macam pemikiran dan pendapatnya masing-masing. Namun diantara sekian banyak jenis orang tersebut, the most irritating one adalah orang dengan kepribadian buatan. Orang dengan kepribadian yang dia latih sendiri, berulang-ulang, sampai mungkin ia sendiri lupa bagaimana sifat dirinya yang sebenarnya.
    Aku kenal betul orang-orang seperti ini, hanya bicara sekitar 10 menit dengan mereka, sensor-ku pun sudah bisa menyatakan. “Hu-uh, this type of dude…“. Ok, aku memang nggak punya dendam pribadi dengan orang-orang seperti ini, ini hanya unek-unek jangan diambil hati…

    Belum mengerti maksudku? Ok ini ciri-ciri typical mereka, khususnya di seputar kantor dan bisnis. Mereka bicara dengan bahasa yang luar bisa intelek, dengan kosakata dan istilah-istilah terbaru. Bicaranya teratur, terencana seolah-olah sedang menjelaskan teori roket, khawatir orang lain susah mengerti apa yang mereka bicarakan. Pada setiap kesempatan mereka selalu berusaha untuk menggunakan bahasa inggris tanpa alasan, padahal dia, lawan bicaranya dan tempatnya berbicara adalah murni jowo! Itu masih mending kalau bahasa inggrisnya bagus, kebanyakan malah belepotan dan terbata-bata, grammarnya salah-salah pula! dan dengan pedenya wajah mereka menggambarkan kepercayaan diri itu.. Bah!

    Mereka sering tampil untuk menonjol, mengemukakan pendapat atau nimbrung pada tempat yang bukan habitatnya, mengerjakan hal yang bukan kewajibannya, mengkritik hal-hal yang sama sekali bukan keahliannya dan menyembunyikan kebodohannya dengan berbagai kata-kata dan istilah teknis yang manis. Kebanyakan pula mereka gaptek! kalau merasa terpojok soal pengetahuan ia kan segera berdalih. “Oh iya.. itu sebenarnya saya juga pernah, tapi bla bla bla (isikan istilah-istilah teknis sosial di sini)…“. Yang lebih ekstrim lagi ada yang kalau disapa “apa kabarnya?” mereka akan menjawab (atau lebih tepatnya berteriak) “luar biasa baik!“, sambil mengepalkan tangan ke atas… atau bisa bahkan juga menolak menggunakan salam selamat siang, sore atau malam. Maunya hanya selamat pagi, tak peduli itu sudah lewat jam 7 malam. Alasannya “selamat pagi” lebih menimbulkan semangat katanya. Believe me, I’ve met those people, and met one recently…

    Aku tahu benar sumber pengetahuan orang-orang ini, buku buku pengembangan diri seperti Seri buku seperti Personality Plus, Seven Habbit for.., Ten Minutes… pastilah menjadi sumber inspirasi hidup mereka. Oh iya satu lagi buku tentang ESQ pasti juga menjadi salah satu kitab sucinya. Mencoba memahami lingkaran-lingkaran rumus ESC dan berpikir bahwa kepribadian dan otak manusia itu bisa dirumuskan seperti itu, dirumuskan oleh manusia pula, bah! Dan payahnya lagi mereka merasa hebat dengan begitu, merasa bahwa cuma merekalah yang tahu dan cukup pintar untuk membaca buku itu. Sepertinya tidak sadar bahwa buku itu sudah tercetak jutaan copy di dunia. Dan kalau ada orang yang tidak menerapkan rumus-rumus itu bukan berarti mereka tidak “tercerahkan”, tapi karena mereka cukup pintar untuk tidak didikte.. mending kalau didikte menulis, lah ini didikte kepribadian. bah! bah! bah!

    Parahnya lagi banyak orang-orang yang masih “normal” sedang merintis jalan untuk kesana, berpendapat bahwa hal itu adalah the next level of personality. Buku-buku itu yang aku sebutkan tadi atau kekaguman buta sering menjadi awalnya.
    Sebenarnya aku malah yakin bahwa justru orang-orang seperti inilah yang nantinya akan dimanfaatkan oleh mastermind yang sesungguhnya. Menjadi bisa dikendalikan. Menjadi sumberdaya yang berkualitas, tapi dengan tingkat kualitas tepat seperti yang dibutuhkan. Banyak perusahaan-perusahaan mengikutkan karyawan-karayawannya untuk mengikuti proses pembentukan kepribadian ini, dengan dalih pendidikan profesionalitas, rehat outbond dan segala macam, apapaun namanya, fungsinya sama saja ” cuci otak!”

    Tanpa ada maksud ofensif kepada siapapun, sifat-sifat seperti ini menurut pendapatku dekat sekali dengan dunia MLM, Network Marketing atau apalah namanya. Dengan membaca bukunya Robert T Kiyosaki dan mendengarkan penceramah dalam sebuah pertemuan, DUAR! seperti kesambar petir. “This is it. This is my solution, this is my next world!” Dan menganggap orang lain yang tidak ikut sebagai orang yang masih dalam kegelapan yang perlu pencerahan. Coba aku tanya pada para peserta pemasar jaringan, Siapa Direktur utama di perusahan anda? General managernya? maksudnya yang benar-benar duduk menjabat di perusahan tersebut (karena tiap institusi resmi pastilah mempunyainya), bukan jabatan buatan seperti pearl maganer, crown manager atau manager-manager sebutan yang lain. Well, merekalah mastermind yang sesungguhnya. Kaya raya dan cukup anonymous.

    Huh, hampir semua buku-buku itu aku baca dan toh tetap bisa menjadi diriku sendiri. Makanya aku sering bilang kalau baca buku, bacalah dari semua sisi. Kalau kau membaca buku tentang Teologi, bacalah juga buku tentang Marxisme. Kalau kau baca buku karangan Mahatma Ghandi, bacalah juga buku karangan Machiaveli. Karena sesungguhnya dunia ini tidaklah sesederhana seperti hitam putih. Ketahuilah semuanya, kemudian tentukan sendiri pilihanmu.
    p.s : dalam menulis blog ini, sesekali juga aku pakai bahasa inggris, bukannya apa-apa sih, cuma karena enak saja, menulisnya mengalir.

  • We are the Tempe People !

    doing a regular

    Ketika aku pergi ke Surabaya menghadiri resepsi perkawinan sepupuku kemarin, aku mendapatkan pengalaman yang lebih daripada sekedar melihat ritual pengantin ala Jawa Timur. Aku melihat bagaimana orang-orang kecil dari Pekalongan (kampoeng halamanku) mencari hidup di kota besar.

    Orang-orang di pekalongan (tentu saja tidak semuanya, ini hanya tipical saja) secara umum hidup dari bertani dan usaha batik. Namun generasi mudanya lebih suka merantau dan mencari penghidupan di kota besar, sebagaimana umumnya fenomena di manapun juga. Ada tiga kota utama tujuan perantauan dari Pekalongan ini yaitu Surabaya, Semarang dan Pekalongan. Sebenarnya Cilacap juga banyak dijadikan tujuan rantau tapi lebih banyak untuk mengembangkan usaha batik atau magang untuk menjadi pe-batik. Pekerjaan yang dilakukan oleh para perantau tersebut ada dua macam yaitu pedagang kopi dan pedagang tempe. Tapi mereka bukan cuma berdagang, mereka juga memproduksi kopi dan tempe tersebut. Pekerjaan ini juga menjadi semacam siklus, para perantau yang sudah berhasil akan mengajak pemuda untuk ikut merantau di kotanya, biasanya sekitar umur 15 mereka akan mulai merantau dan “magang” di tempat kerabatnya.

    Nah pada hari itu aku berkesempatan untuk mengunjungi daerah Trenggilis di Surabaya. Di situ ada rumah pamanku. Wah daerah ini lebih tepat di sebut “pekalongan mini”. Karena hampir tiap warga di situ adalah orang rantauan dari Pekalongan yang bekerja sebagai pembuat dan pedagang tempe. Dan ketika aku ditunjukkan bagaimana cara pembuatan tempe, tak terbayang sebelumnya betapa susahnya usaha yang dilakukan untuk membuat seiris tempe itu.

    Pertama tempat tinggal pembuat tempe haruslah di pinggir sungai, karena jumlah air yang dibutuhkan sangat banyak sekali. Selanjutnya, prosesnya mulai dari memilah biji kedelai (too bad kedelai yang digunakan haruslah kedelai impor, katanya kedelai lokal tidak cukup bagus untuk dijadikan tempe dan hanya cukup untuk makan ternak! what?? aku baru tahu!), menggiling kedelai, mencuci kedelai, mengkrieg (nggak tahu sebutan aslinya apa, yang jelas ini adalah proses menginjak-injak kedelai sampai terpisah dari kulitnya), menyaring antara kulit dan kedelai, merebus lagi, menambahkan campuran (campuran ini bermacam-macam sesuai dengan kualitas tempenya (kualitas bagus banget : tanpa kulit tanpa campuran, kualitas bagus : tanpa campuran, tapi pakai kulit, kualitas agak bagus : campurannya jagung, kualitas lumayan : campurannya singkong), dilanjutkan dengan memberi ragi, kemudian di masukkan ke dalam berbagai kemasan dan dibiarkan selama 2-3 hari. Dan yang aku bicarakan di sini adalah satu kali siklus pembuatan, tiap pedagang biasanya membuat sampai sekitar 2-3 kwintal kedelai.

    Mungkin kalau ada yang melihat prosesnya, nggak akan mau untuk makan tempe lagi (walaupun aku fine-fine aja sih hehehe..) mulai dari air yang digunakan, hoho..air sungai murni, murni di sini artinya ya langsung dipakai, padahal segala macam benda ikut menjadikan sungai itu sebagai jalur pelayarannya, baik non-organik maupun organik termasuk human’s pup. hehehe… Katanya dulu ada ahli dari Amerika yang meneliti dan mensurvei tempat pembuatan tempe disekitar tempat tinggal pamanku, heran kenapa kok tempe2 itu nggak berpengaruh buruk bagi manusia ..eh..kesimpulan akhirnya dia menyatakan bahwa proses yang sedemikian banyak itu, termasuk pemberian ragi (biang) yang menghilangkan efek buruknya. hahaha.. ada2 saja, yang jelas hasil akhirnya sih nggak mencerminkan prosesnya, tempenya begitu putih, bersih dan halus.

    Ternyata yang aku lihat itu belum seberapa, aku diajak berkunjung ke perkampungan tempe yang sesungguhnya, jaraknya tidak begitu jauh, cukup dengan berjalan kaki. Di tepi sungai itu, diantara hutan-hutan bambu (aku sampai nggak peracaya kalau ini masih di Surabaya) berdiri dua buah bangunan yang sangaaat besar sekali yang terbuat dari anyaman bambu. Bangunan pertama terdiri dari 16 kamar dan bangunan yang kedua terdiri dari 32 kamar. Masing kamar dihuni oleh satu buah keluarga, termasuk anak-anaknya, semuanya orang Pekalongan. Sebagian besar kamar itupun digunakan untuk keperluan tempe, sehingga sedikit ruang yang tersisa untuk tempat tidur atau ruang duduk. Waktu aku datang ke sana hari sudah siang dan para pedagang semua sedang sibuk menyiapkan dagangan untuk selanjutnya.

    Pemandangan yang hebat sekali, sebuah komunitas yang jauuh dari kemewahan, penuh dengan hawa bekerja dan rasa kekeluargaan yang tinggi. Semuanya sibuk, semuanya memiliki peran sendiri-sendiri, suara alat penggiling kedelai, kuali-kuali yang terbuat dari tong, aroma kedelai memenuhi udara, pokoknya semuanya! Dan yang paling aku suka, mereka melakukannya dengan ceria, bercengkrama dan bercanda seolah tak terbersit beban hidup pada rona wajah mereka. Jadi malu aku pada diri sendiri yang suka mengeluh ini itu. Sebenarnya waktu itu aku membawa kamera dan ingin memotret.. tapi aku merasa bodoh, memangnya siapa aku? turis? Aku nggak lebih apa-apa dari mereka, walaupun aku tahu mereka pasti senang sekali untuk sekedar dipotret..
    For your information, waktu kerja mereka seperti nggak ada hentinya, mereka mulai aktivitas pada tengah malam! (saat ketika aku mulai akan tidur, mereka memulaiu aktivitas hariannya) mempersiapkan dagangannya untuk diangkut kepasar, berdagang di sana sampai hampir siang, kemudian dilanjutkan dengan membuat tempe untuk hari selanjutnya, dan prosesnya selesai ketika hari hampir malam. Dan mereka melakukannya non stop sepanjang tahun, selama kesehatan tubuhnya mengizinkan. Jadi kalau ada orang sok mengkritisi etos kerja bangsa ini malas dan bla..bla.. pliz buat perkecualian untuk orang-orang seperti ini, or else I’ll poke you right in the eye!

  • Stand Alone Complex

    stand alone complex

    Bukan, ini bukan tentang Ghost in the Shell atau Masamune Shirou, tapi cuma sekedar cuap-cuap biasa tentang pernkikahan dini, ehmm sebenarnya bukan dini juga sih.. sebut aja menikah cepat. Selain teman temanku Iswi dan Ajeng, ada juga temenku satu angkatan yang juga telah menikah sekitar 5 bulan yang lalu, yang ini malah lebih ekstrem lagi “mereka belum pernah ketemuan sebelumnya!” OK, ekstrem mungkin memang bukan kata yang tepat, ini semua memang dari sudut pandangku saja, dari sudut pandang orang biasa, sesederhana itu, tapi tak ada salahnya diutarakan kan? lagi pula ini juga alasan adanya blog 🙂

    Menikah dini (dalam hal ini tentu saja menikah yang normal ya, on purpose, terencana, bukan menikah yang terpaksa) apakah hal ini adalah hal yang berani ataukah hal yang penakut? Berani ya tentu saja, menentukan jalan hidup didalam waktu yang demikian cepat tentu membutuhkan keberanian yang besar. Berani untuk menanggung hidup bersama, berani untuk menjadi milik orang lain dan dimiliki oleh orang lain, terlebih orang lain yang hanya kita kenal dalam hitungan hari. Btw, I always wonder how it is feel to sleep legally with a stranger. hehehe… just kidding!

    Takut? Mungkin juga. Terlalu takut untuk menghadapi kesendirian, takut akan masa depan? takut terkejar oleh usia? Takut melewatkan kesempatan? Takut akan orang lain disekitar kita? Takut tersaingi oleh teman atau saudara yang telah berumah tangga sebelumnya? Dan yang paling penting.. takut tidak mendapatkan sekuritas hidup dan pengakuan?

    Kalau kita menanyakan sesorang mengapa mengambil keputusan yang sedemikian dramatis (at least di mata orang awam) tentu beribu jawaban dan alasan akan terucap… mulai dari alasan-alasan seperti teruliskan diatas tadi, juga alasan agama untuk menyempurnakan ibadah, mencegah hal maksiat, memperkuat keimanan sampai pada the ultimate answer : “why not?” Bahkan kalau mau, deretan ayat dan hadistpun bisa diceritakan.. persis seperti apa yang biasa tercetak pada kartu undangan. wuah !
    Kalau mau jujur, kalau kita mau telanjang, melepaskan seluruh atribut kita. Kita sebagai manusia, tidak terpengaruh oleh keluarga, tidak oleh teman, tidak oleh pekerjaan, tidak oleh ambisi bahkan tidak oleh agama, kita hanya sebagai daging dan tulang yang dibalut oleh perasaan, tidak terlindung oleh apapun juga, tidak juga oleh berderet-deret dalil dan ayat agama yang biasanya selalu kita jadikan tempat sandaran untuk mengamankan dan membenarkan pendapat kita. Saat kita benar-benar kosong. “Siapkah aku menikah?”, “Diakah orang yang tepat untukku?” , “inikah saatnya bagiku?” Apa kabar dong dengan yang namanya “Cinta?”, dengan yang namanya “menggapai cita-cita setinggi langit?” dengan kisah menyelamatkan dunia dulu bersama dia?

    Pemikiran juga tak jauh-jauh dari pengalaman hidup. Sudah jadi standard nasehat terutama bagi cowok, kalo mau nikah punya pekerjaan dulu or else istri-nya mau dikasih makan batu. Kalo mau nikah punya rumah dulu or else tinggal ama mertua, malu kan. Semuanya masuk akal kan? So aku akan ikut. Bermacam macam juga inspirasi datang dari hal-hal yang tak terkira. Dulu ada sahabatku yang dari Italia dia heran banget melihat dijalan raya ada satu motor yang ditumpangi oleh satu keluarga, ayah ibu dan tiga orang anak dengan variasi usia yang tidak terpaut jauh. Kok bisa-bisanya ya orang itu tidak dihentikan polisi? Tindakan itu jelas berbahaya, malah mirip sirkus. Ugh.. dulu sakit juga hati juga bangsaku dibilang begitu. Sirkus? Damn it. Eh tapi kalau dipikir-pikir bener juga ya. So aku tambahkan lagi prasyarat nikahku : “Aku harus punya mobil dulu sebelum kawin“. Terus yang konyol juga ada, dulu juga ada temenku sesama otaku yang sama seperti aku ingin melihat dunia dengan kepala sendiri, ingin pergi ke jepang dahulu, ingin melihat cewek jepang dulu hehehe… jadi kita membuat janji laki-laki : “nggak akan kawin sebelum ke jepang!” Wah banyak banget, bisa bisa bujangan seumur hidup nih…

    Anyway inikan cuma pemikiran, dan pemikiran sebagaimana uniknya untaian helix DNA, bisa bermacam-macam antara manusia satu dan lainnya. Dulu aku sempat membaca ajaran Zen, ada satu kisah yang menarik. Pikiran manusia itu bagaikan cangkir teh, kita tidak akan bisa menuangkan teh kedalam cangkir tersebut sementara cangkir tersebut telah penuh terisi, teh akan meluber keluar dari cangkir teh. Pemikiran baru akan selalu ditolak dan kita akan menjadi cangkir teh yang egois, terjebak dengan kebenaran kita sendiri…

    Tapi semuda-mudanya, kita kan juga sudah dewasa, kita berpikir dengan pikiran kita bukan dengan hati kita lagi. Apa yang kita lakukan berpengaruh pada diri kita sendiri. So life, here I come!

  • Flower, so many the same, so many without purpose…

    Ya ampun… pada sibuk semua. Memangnya hidup ini lomba lari? Boleh nggak aku nggak menang tapi juga nggak capek? Aku cuma mau menikmati indahnya pemandangan sepanjang lintasannya..

  • Merdeka Merah Putih

    Sang Saka Dwiwarna Merah Putih

    Merdeka!!! Wah sudah tanggal 19 ya, telat juga nih ngeblog soal 17 belasan. Sudah 60 tahun Indonesia merdeka. Ternyata kalau aku pikir 60 tahun itu singkat juga ya. Kalau sekilas diomongkan, sepertinya 60 tahun adalah waktu zaman dahulu kala sekali, padahal 60 tahun itu bukan apa-apa sungguh!

    Aku masih ingat betul 17 agustus 10 tahun yang lalu. Waktu itu tahun emas kemerdekaan. 50 tahun indonesia merdeka. Aku masih kelas dua SMP. Wah jadi ingat Novi Kusumaningrum, Halo Nov, di mana kamu sekarang? Novi ini dulu temen sebangku-ku (paling nggak kalo ada walikelas yang memeriksa, kalau bukan walikelas, kita kadang-kadang duduknya ngumpul sesuai “komunitasnya” masing-masing. :-). Kebetulan kita berdua juga peringkat ranking 1 di kelas (sombong mode=on). Dia ranking 1.1 kalau akau ranking 1.2 Huh, kenapa aku yang kedua ya? toh jumlah nilainya sama (egois mode=on). Hobi kita juga sama waktu itu, menggambar. Kalau sedang ada pelajaran yang boring, kita pasti menggambar. Typical-nya sih aku menggambar Dragon Ball, dan dia menggambar Sailormoon! Nah ceritanya pas 17 agustusan itu ada tugas melukis tentang tahun emas kemerdekaan. Dan aku berusaha sebaik mungkin. Aku curahkan semua kemampuan dan hasrat menggambarku waktu itu, rasanya puas sekali. Waktu itu aku melukis perahu layar indonesia (dulu perlambangan tahun emas indonesia adalah perahu layar) pokoknya megah deh. Novi menggambar tentang pembangunan, ada berbagai macam objek di lukisannya, dan objek utamanya adalah seorang penari Bali. Indah sekali. Sangat bagus dan berirama. Kita saling mengapresiasi dan memuji, dan lebih mengenal masing-masing bukan lewat banyaknya kata yang terucap, namun lewat sapuan kuas… Senang sekali punya teman yang punya banyak persamaan. Nah itulah kenanganku tentang Indonesia emas. Hehehe gak ada hubungannya ya 🙂

    Kalau 17-an tahun lalu, aku merasakan-nya di Jakarta, Dulu dalam rangka kerja praktek selama sebulan. Wah kalo ini jadi inget mbak Wisnu, mbak Lucky, Mas Amin dan kawan-kawan nih dari PT Prentis. Bagaimana kabarnya semua? Semoga sudah ada perdamaian diantara kalian semua, jadi nggak saling mengusili terus.. 🙂 Weits, sudah setahun ternyata ya. Ampun, perasaan baru kemarin sore deh pulangnya…

    Semarang rame juga tahun ini, seperti biasa da pawai kendaraan hias besar-besaran lagi. Di kesempatan seperti ini, kembali lagi terbesit rasa bangga yang tak terkira sebagai bangsa indonesia. Melihat persatuan. Mulai dari militer, murid-murid sekolah, industri rakyat, genk motor gede Harley, warga WNI keturunan sampai mas-mas tukang becak yang ikut menyumbang atraksi becak-nya. Semuanya satu kesatuan yang indah.

    Di kantor-ku sendiri tak kalah meriah, lomba-lomba masih saja berlangsung sambil aku nulis blog ini. Mulai dari berbagai macam olahraga, sampai yang bertolak belakang (ada lomba Adzan kemudian lomba main gaplek!). Yang paling seru tadi lomba panjat pinang, atau lomba panjat bambu tepatnya. Ada dua buah bambu setinggi lebih dari sembilan meter di halaman kantorku. Kok ya bisa ada yang berhasil, berulang kali aku melihatnya tampaknya benar-benar mustahil dipanjat pohon itu, apalagi pelicin yang dipakai banyak sekali. Ah, semuanya bergembira lupakanlah sejenak beban hidup. Hari ini adalah harinya rakyat!

    Ngomong-ngomong soal peringatan kemerdekaan, sekarang kok banyak banget ya yang merasa kita ini belum merdeka, kita ini masih terbelenggu, kita ini masih ini masih itu dan lain-lain. Malah menggelar demo segala menebar suasana duka. Wah jujur aja ya aku nggak setuju, kalian merusak kegembiraan rakyat! Bener juga sih, kita masih jauh dari bentuk negara yang “settled”. Kita masih morat marit, perlu banyak belajar. Dan seperti juga anak kecil belajarnya juga kadang-kadang disertai jatuh. Malah jatuhnya berdarah-darah. Tapi ayolah… sekarang kita tidak lagi harus berlindung kalau-kalau ada serangan udara. Kita tidak perlu lagi untuk berlindung kalau-kalau tiba-tiba perang meletus. Kita tidak perlu menunduk-nunduk untuk lewat di depan bule-bule di tanah kita sendiri. Kita tidak perlu lagi merelakan anggota keluarga untuk pergi (yang belum tentu bisa kembali). Makanya kalo ada yang bilang kita ini belum merdeka ini dan itu, cobalah lihat negeri-negeri lain yang masih berperang.. dan bersyukurlah! Aplagi kita mendapat hadiah ulang tahun yang manis, perdamaian di tanah Aceh.

    Orang tua mungkin lebih bisa menghargai kemerdekaan ini. Mereka yang dulu harus makan daun krokot (tahu nggak daun ini?). Mereka yang harus makan bonggol pohon pisang dan menganggap gaplek adalah makanan mewah tentu akan lebih bisa menghargai kemerdekaan. Mereka yang merasakan penjajahanlah yang paling bisa menghargai kemerdekaan. Sampai sekarang aku masih saja terharu apabila nenek-ku bercerita tentang pertempuran di Kali Sepait di Pekalongan ~tanah asalku. Dimana laki-laki terbaik di semua desa dikumpulkan untuk berperang, -sekali lagi berperang- membunuh atau dibunuh. Dimana banyak pohon kelapa yang ditebang untuk menghalang-halangi tank-tank milik Belanda, namun tak berguna… Di mana tiap malam hari semua keluarga berdoa agar tidak ada berita dari Kali Sepait untuk “mengirimkan orang tambahan”. Dimana sekarang kadang masih bisa dijumpai tulang belualang manusia walau 60 tahun telah berlalu dan daerah itu kini menjadi ladang pertanian. Tentu mereka lebih mengerti…
    Sekarang kita malah lebih banyak berisik, kita belum merdeka, kita terjajah dan bla bla bla… Kalau kau sekarang lagi enak-enak duduk santai sambil ngenet dan bilang kita belum merdeka.. wah tega nian kau! Coba kau cuma berpakaian karung goni, makan daun krokot sambil dihujani peluru! Terus bilang kalau kita belum merdeka, baru aku setuju.

    Kenapa kita tidak melaksanakan peran kita saja masing-masing dengan sebaik-baiknya, dengan idealisme yang sama dengan saat kita berdemo? Kalau semua seperti itu, satu dekade kedepan pasti Indonesia sudah lebih baik. Misalkan saat ini para koruptor busuk itu rata-rata berumur 40 tahun, well nantinya mereka akan mati juga kan? Bebaslah Indonesia dari koruptor! Memang sih mereka meninggalkan jejak. Tapi siapa yang ditinggali jejak mereka itu? Kita juga kan? Kita seringkali menyalahkan para pejabat.. tapi coba tengok diri kita, apa yang sudah kita perbuat. Bedanya maling dengan “orang baik” yang tamak adalah antara yang mendapatkan kesempatan untuk berbuat dan yang tidak. Kita sudah dihadiahi negeri ini dari pendahulu kita, oleh korban darah dan air mata (wuih.. ini puitis memang, tapi serius). Mau diapakan negeri ini juga terserah kita (kita di sini maksudnya bangsa Indonesia), mari kita bangun sebaik-baiknya.

    Wah-wah nggak ada ujung-nya memang kalo ngomongin tentang negara. Yang jelas kita merdeka, tapi 60 tahun itu masih anak-anak, perjalan masih jauh dan panjang. Tetap berjuang.
    MERDEKA !!!

  • Oscar for Ghost Hunter?

    boo..!!

    Kemarin, sepulang kerja aku lihat rame-rame di jalan kaligarang depannya pasar swalayan kedaton. Aku sih gak peduli tapi, jalan aja terus. Malemnya aku mau ke Gramedia, lewat jalan itu lagi, masih aja rame, sekarang malah jauh lebih rame lagi banyak orang kampung sekitar situ yang nonton. Oh..rupanya ada hantu ..eh.. maksudku syuting pemburu hantunya lativi. Sorry ya, gambarnya kok malah ghostbuster, lha wis googling nggak nemu sih, jadi itu aja, lagian mirip buanget kok, jelas-jelas “trully inspired” tuh. Sedikit ngomentarin logo-nya ya. Kenapa ghostbuster banget? Kenapa childish banget? Itukan gambar setan sprei (maksudnya orang yang malsu jadi setan pakai sprei!). Kalau aku membayangkan akan membuat logo Tim Pemburu Hantu, mungkin aku akan berpikir tentang sesuatu yang mistik dan megah, tentang histogram-histogram kuno yang religius atau semacam itu. Ah.. tapi sudahlah!

    Aku belum pernah nonton acara itu sih, maksudnya satu acara full, paling-paling mampir sekilas kalau acara yang aku tonton sedang iklan. Tapi karena ini di kota-ku ya akhirnya nonton juga aku malam itu (di tv), full! Dan oh..wow. Kayaknya lagi lagi aku akan mencemooh nih.. Biar aja, lha blog punyaku sendiri hehe.. Tapi aku nggak akan jadi ahli sosial yang lantas membahas pengaruh acara ini dimasyarakat, males, cukup dari sisi diriku aja.

    Sebelum acara pengusiran (yang wonderfully dramatic itu) si mbaknya nerangin segala macam yang pernah nampak di sini mulai dari wanita berbaju putih (wa… sadako banget, kayaknya ini model setan global ya?), terus ada setan yang cuman kepala doang dan juga setan yang mandi dll. Setelah ini itu akhirnya pengusiran dimulai. Wa keren juga ya..maksudku segala macam akrobatiknya gitu. Aku nggak pernah menyangka kalo pengusiran setan bisa tampil se”fisik” itu. Persis seperti mengusir orang, cuman bedanya ini nggak keliatan. Setan ditarik-tarik, diseret-seret, di combo attack dan akhirnya dimasukkan ke dalam botol. Penggambaran versi para jagoan ini pun tak kalah dahsyatnya. Mulai dari setan buaya yang besar, setan raksasa (dan sempat men-smack down salah satu jagoan) dan banyak lagi sampai aku lupa.. tapi mereka nggak menyebutkan vampir dan warewolf sih. Musik dan sound effect yang mirip game survival horor serta gambar di tv yang diberi frame hitam (buat apa sih dikasih frame segala? kasihan kan yang tv-nya 14 inch!) semakin menambah serunya suasana. Ya, seru! jauh banget dari kesan batin yang mistis dan religius. Bahkan mereka sempat membentuk formasi ala tokusatsu sentai (power ranger) suer! aku nggak bohong, katanya formasi perlindungan atau apa gitu. Kenapa nggak sekalian aja ditambahkan efek jurus kamehameha? Pasti lebih fantastis!

    Jujur aku nggak begitu percaya sama hal-hal ini. Mungkin karena aku emang sama sekali nggak concern? bisa jadi. Malah kalau boleh aku berpikir sedikit picik, ini mungkin malah model baru advertising dari swalayan itu. Aku belum pernah ke swalayan itu, karena emang nggak tertarik. Dan aku juga nggak pernah sama sekali mendengar berita kalau tempat itu berhantu atau bahkan merupakan kampung hantu (karena hantu yang sukses ditangkap banyak sekali)!
    Waktu aku googling di forum-forum dalam negeri, komentarnya lucu lucu juga lho :
    -“Harusnya mereka kerjasama dengan syrup ABC, karena yang dipake botol syrup ABC. Lumayan kan bisa iklan “Syrup ABC, udah enak, botolnya bisa buat nangkap hantu lagi!” hehehe..
    -“Pake vacuum cleaner aja! pasti lebih cepet”
    -“Kenapa kerasukannya selalu macan, buaya dll.. nggak pernah kerasukan burung?. Kan bisa terbang yang kerasukan itu, baru aku percaya”

    Masuk akal juga ya, paling nggak itu pendapat yang jujur. Tidak memaksakan pendapat dan asumsi kepada diri sendiri. kalaupun mau dipaksakan penjelassan yang logis, jelas nggak akan ketemu, jelas sel-sel otakku menolaknya. Kata orang “seeing is believing” …nah ini lha piye, wong nggak keliatan kok! Jangan salahkan aku yah!
    Komentar temenku Encup soal acara itu : “Mereka harusnya dapat Oscar!”

  • White Collar Blues

    white collar blues

    Semasa manusia muda, semasa hidup ini masih indah, apabila diajukan pertanyaan “apakah yang ingin kita capai di hidup ini?” Jawaban yang muncul bisa beribu-ribu banyaknya. Melakukan hal-hal yang hebat, Meraih cita-cita setinggi mungkin, menjadi orang kaya, orang terkenal, orang penting, dan banyak lagi yang lainnya. Yang intinya kita ingin agar hidup ini berarti, kita ingin meninggalkan nama kita di dunia ini. Kita ingin berbeda dari orang lain, lebih hebat, lebih ini dan lebih itu. Pokoknya stand out of the crowd lah.

    Namun apakah yang berubah ketika kita menjadi dewasa dan kemudian tua? Fisik? itu jelas. Yang lebih penting adalah bahwa pemikiran kita berubah (okelah, ada juga mengatakan “berkembang“), sedihnya dengan berubahnya pemikiran dan pemahaman kita itu, segala idealisme kita juga kebayakan juga ikut larut dalam perjalanan hidup yang gila ini. Kita menjadi lebih banyak bertoleransi pada diri sendiri, lebih mudah memaafkan diri sendiri, kita melepaskan banyak kesempatan dengan alasan kemapanan. Kita ingin menjadi bagian masyarakat, kita ingin menyatu dengan yang lain, kita butuh securitas diri, kita butuh pengakuan…

    Berikut adalah contoh skenario hidup typical yang aku lihat.. Lahir di sebuah keluarga bisa, mendapat pendidikan yang baik baik di rumah maupun di sekolah. SD-SMP-SMA berusaha dengan sebaik-baiknya. Akhirnya bisa masuk perguruan tinggi. Sampai di sini idealisme masih berperan dengan gagahnya, mengalahkan segala hal yang lain. Kita masih ingin ini dan itu seperti yang aku sebutkan diatas.Namun di sini pula, sedikit demi sedikit, disadari atau tidak disadari, berpikir tidak lagi dengan idealisme yang murni, tidak lagi dengan semangat yang membara. Tapi dengan kepentingan untuk “sama dengan yang lain”, untuk pengakuan semata. Astaga “si A sudah lulus, aku harus cepat-cepat lulus ni”. “Oh, si B sudah bekerja aku harus dapat kerjaan juga nih”. “Eh si C sudah menikah, aku harus cepet-cepet cari pacar nih” Ahhh… Pekerjaan dan Keluarga, bukankah itu bekal yang dibutuhkan untuk dapat masuk ke masyarakat? mungkin.

    Mengapa panik kebakaran jenggot hanya karena 3 bulan lulus belum dapat kerja? (seperti teman saya). Toh kita kuliah bertahun-tahun. Aku yakin kalau orang tua masih mampu kalau memberi makan lagi barang setahun dua tahun (sekali lagi ini contoh typical). Bukannya manja, tapi mengapa kita tidak berpikir? Waktu memang adalah sangat berharga. Berpikir lebih berharga lagi. Tak ada pemanfaatan waktu yang lebih berharga daripada berpikir menurutku. Biarlah berhenti sejenak dari putaran waktu dan berpikir, betapa teraturnya hidup kita sejak dulu, seperti gigi roda yang tak pernah berhenti berputar, sehingga ketika kita lepas sebentar saja dari sebuah jalur yang ditentukan, kita sudah hilang tak tentu arah. …Cogito ergo sum (I think therefore I am)…

    Akhirnya lulus kuliah, beberapa saat kemudian apply lamaran kemana-mana. Mula-mula yang sesuai dengan bidang ilmu kalaupun nemu ya syukur, kalau tidak ya dimana-aja lah asalkan bekerja dan mendapatkan gaji yang cukup. Seperti dikejar-kejar, entah dikejar apa. Setahun pertama kita bersemangat, mencari hal-hal yang baru bahkan pekerjaan yang baru. Beberapa waktu kemudian akhirnya ada gadis/ jejaka juga yang nyantol (syukur kalau suka). Janur kuning-pun melengkung, kita punya keluarga. Kita manusia yang utuh sekarang. Namun sekali lagi waktupun terus berlari tak pedulu kita terseok-seok, tak ada lagi waktu untuk berpikir, kita harus mengejar! atau mati tergilas olehnya. Tanpa kita sadari kita telah terkungkung oleh rutinitas, oleh pengkondisian dan terlebih lagi, terkungkung oleh diri kita sendiri, kita tidak lagi kenal dengan diri kita yang dulu. Kemudian tahun berlalu, mungkin kita sudah naik jabatan. Taraf hidup kita sudah lebih baik. Sampai di sini garis hidup menjadi jelas. pindah kerjaan? gila kali! sudah capek-capek aku mencapai posisi ini. Mau melakukan ini atau itu? Ah sibuk urusan kantor! mana ada waktu. Begitu terus seiring dengan berjalannya waktu. Kulit pun mengkeriput dan rambutpun memutih. Kita merasa telah mengalami semuanya dan mengecap diri kita bijaksana. Kita semakin taat beribadah, siap-siap mati dan menerima nasib… Tentang idealisme yang dulu? …hah idealisme? Apa itu?

    Kalau bisa dipersingkat mungkin begini : Aku lulus cepat, punya pekerjaan mapan, punya pasangan dan rumah sendiri (kalau sudah mampu) = aku hebat! ..and? So What? Milyaran orang dibumi ini melakukan hal sama seperti yang kau lakukan. Kau akan mati juga seperti yang lain, dan sepuluh tahun kedepan tak akan ada yang mengenalmu, bahkan tak akan ada yang tahu bahwa kau pernah ada… hanya species biasa yang melanjutkan siklus hidup dan reproduksi.. tak lebih.
    White Collar Blues adalah judul chapter sebuah manga yang menceritakan dengan persis apa yang kutulis disini. Tentang orang yang tersadar dan terdiam di masa tuanya, menyadari bahwa dia mempunyai segalanya namun tidak mencapai apa-apa (see what I mean?) Senang juga aku bahwa ada yang berpikir sama denganku. Tapi terlepas dari apapun juga, inilah pemikiranku sekarang, apa adanya. Salah satu dari pemikiran sekitar enam setengah miliar penduduk bumi juga. Mungkin kelak aku juga akan seperti mereka yang aku ceritakan di depan. Mungkin aku akan kehilangan diriku yang sekarang. Kalaupun itu terjadi paling tidak blog ini adalah momento bagiku, bahwa aku di waktu ini (july 2005) berpikir seperti ini. Ahh.. masa depan memang menakutkan!
    ~mudah-mudahan ada yang kuat baca sampai akhir hihihi.. 🙂 . Theme song untuk postingan ini : “Reset Me” by Hysteric Blue. I really love this song! “reset me, zero ni…!”

  • We Laugh at Insult?

    Tadi malam nih aku nonton acara lepas malam di tipi. Jujur aja ya, sekarang-sekarang ini aku benci banget sama hampir semua acara tv, terutama yang lokal. kerana aku ngerasa nggak dapet apa-apa dari sana. Terhibur nggak, Dapat Informasi juga nggak. Tapi apa mau dikata, dulu aku pernah baca bukunya Robert T Kiyosaki (Aku baca ini karena aku suka baca buku, bukannya aku penganut “sekte” MLM tertentu loh ya) yang bilang bahwa “tv adalah sumber informasi bagi orang bodoh dan orang miskin”. Kayaknya bener juga nih. Karena sahabat terdekat kita yang selalu disamping kita saat dibutuhkan di rumah adalah tv. huh? menyebalkan, tapi mau gimana lagi. Apa mau dibuang tvnya? wo…

    Eh balik lagi ya ke lepas malam. Kebetulan waktu pas aku nonton temanya tentang pelestarian lingkungan. Ada beberapa penerima penghargaan Kalpataru yang hadir.. tapi bukan itu yang menarik perhatianku tadi malam.. cuma seceplos joke saja dari artis tamu Sarah Azhari yang aku nggak ngeh! Waktu itu dia ditanya Kalo para pengusaha penjarah perusak lingkungan itu ditangkap enaknya dihukum apa? Dan seperti biasa artis-artis macem gini menjawab dengan segala kejeniusan-nya “Mungkin dihukum jadi tukang sampah aja ya suruh bersihin jalan..” Dan begitulah acara pun mengalir kembali. Mungkin terdengar biasa atau lucu kalau didengar… tapi lain halnya kalau kau ADALAH seorang tukang sampah! Apa salahku hingga keadaanku dianggap sebagai hukuman? Apa dosaku hingga para perusak lingkungan yang merugikan orang banyak harus itu dikutuk menjadi aku. Apakah aku ini semacam kutukan? Aku cuma berusaha sekuat tenagaku ini, sekuat otakku yang miskin pendidikan ini untuk menjaga perutku dan perut istri dan anak-anakku tetap terisi nasi… itu saja! Aku tidak merugikan orang lain, apalagi merusak lingkungan!

    Lebih jauh lagi aku berpikir tentang lelucon-lelucon yang menjadi tren di masyarakat ini. Mengapa semuanya mencela keadaan orang lain? Apa tidak ada sumber humor yang lain? Contoh? Lihat saja para pembawa acara dan tim pencela API-nya TPI. Sesuai namanya mereka saling mencela satu sama lain. dan para penonton tertawa terbahak-bahak… aku bener-bener nggak ngerti keadaan ini. Celaan dan ejekan mereka begitu dalam dan berulang-ulang. Komeng, Omas, Ulfa, Narji dan sebagainya. Ya ampun mereka saling mencela kondisi fisik sampai habis tak bersisa, mulai dari muka, mulut, kulit, gigi, hidung, keturunan dan banyak lagi. Mungkin menurut pendapatku Komeng lebih tepat disebut sebagai “pencari dan pencela keburukan orang” daripada seorang pelawak.

    Masih soal acara API itu, salah satu celaan mereka seperti ini kira-kira ” Ya pantes aja dia begitu dia ini kan lulusan SLB!” Lucu? tentu saja, penonton pada tertawa.. tapi sekali lagi lain halnya kalau kau pernah sekolah di SLB atau anak atau saudaramu yang di SLB. Tahu apa mereka tentang anak-anak SLB? Tentang perjuangan mereka untuk menjalani hidup? Tentang perjuangan keluarga mereka untuk memasukkan anak-anak terbelakang ini ke masyarakat? Bayangkan betapa sedih hati mereka ini, toh mereka tidak memilih untuk terlahir sebagai seorang tuna grahita.

    Kenapa ya model lelcucon ini yang populer di masyarakat? mungkin banyak beribu alasan dan hipotesis sosial yang bisa dikemukakan. Aku bukan sosiolog atau psikolog (dan tidak pernah memerankan mereka di televisi :-)), namun aku rasa cukup orang biasa saja yang dibutuhkan untuk meyadari bahwa “something is wrong here..”Namun lepas dari ini sebenarnya banyak hal yang bisa membuat kita tertawa tanpa menghina kekurangan orang lain, untuk tertawa tanpa menyakiti. Begitu banyak hal didunia ini yang mampu menyentuh hati kita untuk tersenyum dan tertawa. Ah.

  • Blue pill or Red pill ?

    Malam minggu, biasalah ke Gramed nyari-nyari manga atau bacaan untuk weekend. Nggak ada gawean, maklum jomblo kronis 🙂 Ada beberapa majalah baru yang dah terbit seperti Anima, Animonster, Chip dan National Geographic. Bingung juga milihnya. Sebelum mutusin beli yang mana, aku keliling-keliling dulu, eh nyangkut aku ke sebuah buku. Judulnya sih murahan banget “Perang demi Uang” karangan Amy Goodman.

    Amy Goodman (she) adalah seorang Jurnalis penentang perang, kiprahnya bukan hanya di Amerika tapi sudah mencapai global bahkan dia pernah beberapa kali mengalami perang dan bentrokan secara langsung di beberapa belahan dunia. Dia bekerja sebagai pembawa acara pada DemocracyNow, salah satu dari jaringan radio Pacifia, salah satu diantara sedikit sekali jaringan yang benar-benar independen.

    Setelah baca-baca cover belakangnya mulailah kubaca buku itu. Kau pasti kaget pada beberapa komentar tentang Amy Goodman yang dilampirkan di situ. Lembaran-demi lembaran buku itu kubaca. Dan isinya..wuah! membuatku muak setengah mati. Buku ini membahas apa yang disembunyikan dari kita tentang politik dunia, mulai dari timor-timur, nigeria, irak dan kebanyakan amerika. Tentang bisnis dan perang dan bagaimana mereka berjalan beriringan menuju tujuan yang sama (keuntungan) dengan menghancurkan apa saja yang menghalangi, termasuk media.. Dijelaskan semua disini tentang pembohongan global, hubungan anatara berbagai pihak yang tidak saja memuakkan tapi juga tak tahu malu. Seakan-akan dunia ini terdiri dari berbagai layer kebenaran (dan tentu saja kebenaran yang hakiki terdapat pada layer yang terbawah..layer yang tidak terlihat oleh kita.

    Judul asli buku ini adalah “The Exception to the Rulers: Exposing Oily Politicians, War Profiteers and the Media That Love Them” teman-teman bisa lihat di situs DemocracyNow. Aku bukannya gampang percaya dan menerima isi buku ini mentah-mentah, tapi.. coba deh teman-teman baca sendiri. Ketika ingin membeli buku ini perasaanku mungkin seperti Neo yang diberikan tawaran oleh Morpheus. Kau pilih pil yang mana? Pil merah atau pil biru? Mengetahui kebenaran atau lebih berbahagia dengan tidak mengetahuinya? Malam itu aku memilih pil merah, aku beli buku itu. Majalahnya ntar dulu deh minggu depan kalau ada duit lagi. 😀
    Sorry, jadi serius..

  • Yuna di Lembaran Suci

    Oi friends, lihat gambar di bawah ini, pasti deh akan tahu langsung apa yang akan saya katakan di sini. people say “a picture paints thousands of words..” Benar, satu lagi saya temukan desain yang mengambil desain lain seenak udelnya sendiri. Dan tebak siapa korbannya kali ini? Hehehe.. ladies and gents, may I present you..our summoner princess, Yuna! (wow, again!).
    Ketika aku main ke toko buku Toga Mas deketnya Undip (read or preview at gramedia, buy at toga mas, cheaper oi.. 🙂 ) Nah dilantai dua, di display buku-buku baru tentang agama, mataku tertambat pada sebuah buku berjudul “Perempuan di Lembaran Suci” karangan Ahmad Fudhaili. Tentu saja yang akan saya ceritakan di sini bukan isi bukunya, karena saya bener-bener nggak mudeng, yang saya ceritakan di sini adalah sampulnya, kulitnya, alias luarnya saja. Yang menarik perhatianku tadi bukanlah judulnya melainkan sampulnya yang bergambar Yuna. Mataku ini sekan-akan langsung tertegun melihat desain coretan yang sekilas abstrack itu..ya sekilas, karena jelas-jelas gambar wanita itu adalah gambar Yuna dari Final Fantasy X yang sedang menari. Gambar yang diambil langsung dari logo resmi Final Fantasy X. Gila!

    Yuna strikes again!

    Ternyata sampul buku ini tidak terlalu suci seperti judulnya. Gambar disebelah kiri adalah gambar sampul buku tersebut ( I took it with my camera phone), sementara gambar kanan bawah adalah logo Final Fantasy X dan gambar kanan atas adalah crop atau potongan logo tersebut yang di bajak sebagai sampul buku. Saya ceritakan tentang logo ini sedikit, logo ini menceritakan Yuna yang sedang menari (kiri) untuk melawan Sin, perwujudan dari dosa manusia (kanan). Rupanya Yuna dan seri Final Fantasy ini telah memberikan inspirasi yang sedemikian hebat pada desainer-desainer ini, namun sayang inspirasi ini bukannya dikembangkan, malah diambil mentah-mentah. Bahkan dikepalaku langsung bersliweran cara-cara untuk men”desain” sampul ini. ..

    1. Pertama-tama buka logo FFX
    2. Crop bagian Yuna-nya
    3. Buang backgroundnya dengan selection
    4. Ubah ke mode grayscale
    5. Berikan efek threshold ringan untuk mendapatkan kesan sedikit abstrack
    6. Ubah kembali ke warna RGB, fill dengan warna biru, beres!

    Tentu saja akan lain ceritanya menurut saya apabila buku ini cuma sebatas terbitan pribadi atau digunakan di kalangan tertentu, tapi buku ini terbitan nasional! di sampul belakangnya (yang mana juga ada gambar Yuna-nya) terdapat quote-quote penghargaan dari berbagai tokoh dari berbagai instansi. Dan belum di dalamnya mencantumkan pengantar-pengantar dari tokoh yang pasti cukup terkenal dikalangannya (aku nggak tahu sih). Bagaimana mungkin orang sebanyak itu mereka tidak tahu? Pastilah buku itu sudah sampai ke berbagai pihak, penerbitan, reviewer dan termasuk desainer, sebelum akhirnya turun cetak kan? Atau lagi-lagi mungkin “membiarkan” dengan menyangka bahwa kita-kita ini, konsumen yang bodoh ini bahkan tidak akan menyadarinya? Ironi-nya lagi, buku ini kan tentang agama.

    Aku berpendapat di sini seperti juga pada kasus sebelumnya bahwa si culprit-nya ini bukanlah penulis atau reviewer atau penerbit, tapi desainer! Ketika aku lihat bagain dalam buku itu. (Ya, di toko manapun aku sudah ahli untuk membawa buku yang aku pingin liat ke pojok yang sepi, membuka segel plastiknya dengan kuku, menyembunyikan palstik di belakang display buku lain, membaca bukunya dengan nyaman dan melakukan semuanya itu tanpa merubah mimik muka tak bersalah sedikitpun 🙂 ). Ku baca di halaman awal bahwa desain sampul oleh “Chandra”, itu saja. So, Chandra if you read this, “I would like to hear your comment please..”